Keberadaan Kesenian Tari Tayub Jawa Timur

Preambule
Weekend santai dirumah dengan kinan, akhirnya bisa juga disempatkan Blogwalking ke tempat pak dhe cholik dimarkas blogcamp yang ada disini dan  menemukan artikel kuis beliau hari ini menggugah semangat saya untuk ikutan meramaikan kontes “Jambore On the Blog 2012 Edisi Khusus : Lestarikan Budaya Indonesia”. Kangen rasanya ikut kontes pak dhe yang membuat saya harus berpikir,melakukan kajian dan survey *jiah bahasanya…ilmiah sekali kesannya….yang pasti mencari referensi dan literatur atau juga belajar dari catatan sejarah tentang sesuatu. Ingat pesan pak dhe cholik  “Dalam membuat artikel atau menulis untuk kontes jangan terjun bebas”.Hmm…jadi ingat jaman kuliah dulu pas mengerjakan tugas menulis laporan atau artikel seperti ini. Maklum kuliah dijurusan komunikasi massa, kurang lebih belajarnya lebih banyak bersentuhan dengan hal hal sosial dan politik, dan yang pasti belajar tulis menulis yang pastinya harus ada 5 W + 1 H.

Saat Membaca pengumuman kuis ditempat Pak dhe tiba tiba ingat tugas jurnalistik radio yang pernah saya buat jaman dahulu. Di akhir semester kita diminta membuat sebuah narasi  dan juga wawancara dengan narasumber untuk sebuah acara radio yang direkam dalam sebuah kaset. Waktu itu saya mengangkat tema  tentang Kesenian Tari Tayub Tulungagung. Coba mengingat ingat lagi tentang tulisan saya waktu itu sambil sedikit browsing untuk memperluas pengetahuan saya tentang kesenian Tari Tayub Tulungagung dan kontroversinya.

Sebagai seorang anak yang dilahirkan disebuah kota kabupaten di Jawa, yaitu Tulungagung saya dari kecil sudah akrab dengan kesenian Jawa. Ditambah lagi kebetulan salah satu kakek saya dari pihak Ibu yang biasa saya sebut “Mbah Kung” sangat mencintai budaya jawa ini, beliau mahir sekali memainkan berbagai gamelan jawa seperti gendang, rebab, bonang,kenong,gambang, gender dan masih banyak lainnya. Masih ingat dirumah Mbah kung ini ada beberapa alat musik gamelan Jawa ini.Mbah kung saya ini jaman mudanya tergabung dalam sebuah perkumpulan kesenian dan sering manggung untuk pentas atau istilahnya “nabuh” pada banyak acara atau acara tayuban yang pada jaman jayanya dulu begitu marak. Bahkan diusia tuanya ini sering di undang untuk memberi latihan “nabuh” atau belajar gamelan jawa dikecamatan dimana beliau tinggal. Ditambah lagi bapak saya yang walaupun tidak terlalu mahir memainkan alat musik gamelan jawa, tapi beliau sangat mencintai budaya jawa. Saya masih ingat jaman SD saya sering diajak bapak nonton pertunjukan Ketoprak, Ludruk ataupun pertunjukan Wayang yang saat itu diadakan di gedung kesenian Desa atau kecamatan.Belum lagi kaset kaset uyon-uyon atau langgam jawa yang bertumpuk dan selalu di putar dirumah.

Saya mau jujur satu hal, bahwa saya terus terang tidak terlalu suka dengan kesenian ini, jiwa seni mungkin hanya seuprit ada didalam diri saya ditambah saya dilahirkan dan dibesarkan di era atau jaman yang sudah sedikit modern, jadi terus terang walaupun dulu waktu kecil saat SD dan SMP ikut les tari menari atau jaman kuliah mencoba ikutan UKM Karawitan dikampus, semuanya tidak bertahan lama karena ketidak tekunan saya.  Baiklah rasanya cukup panjang tulisan pembuka saya untuk artikel yang akan saya buat untuk kontes ini. Semoga artikel ini bermanfaat dan jadi tambahan pengetahuan kita dan juga semakin mengukuhkan keberadaan dan kekayaan budaya Indonesaia.

Keberadaan Kesenian Tari Tayub Jawa Timur

Ketika berbicara tentang kesenian tari-tarian yang ada di Indonesia yang ada dikepala kita tentunya muncul berbagai nama tari tarian daerah yang jumlahnya tentunya ratusan bahkan bisa jadi lebih. Mengingat bahwa negara Indonesia yang terdiri dari beribu ribu suku bangsa  dengan keragaman adat istiadat dan kesenian yang didalamnya termasuk tari tarian. Namun kelestarian  dari berbagai jenis kesenian tari daerah saat ini perlu kita perhatikan. Semakin canggihnya media massa  yang pada akhirnya membawa budaya globalisasi  begitu membanjir dari negara negara barat telah membuat generasi muda kita rasanya lebih mengenal jenis tari modern dari negeri negara barat daripada mengenal dan juga tahu beragam jenis tari daerah asli Indonesia. Sebagai contohnya generasi muda kita  akan lebih mengenal tarian “breakdance” atau tarian salsa daripada tarian serampang dua belas atau tarian gambyong.Inilah salah satu dampak globalisasi diera milenium yang pada akhirnya bisa mengakibatkan luntur dan hilangnya jenis tari tarian daerah asli asal indonesia. Termasuk salah satunya kesenian tari Tayub yang begitu terkenal pada masanya didaerah Jawa Timur, termasuk salah satunya dikota kelahiran saya Tulungagung.

Pernah dengar tentang kesenian Tari Tayub? Mungkin ada beberapa dari sahabat yang sudah mendengar dan melihat apa dan bagaimana sejarah tari tayub ini. Ada yang mungkin langsung mengasumsikan kesenian tari tayub ini dengan konotasi kesenian yang lebih bersifat negatif. Kenapa demikian? Apa sebenarnya tari tayub ini? Dan apakah konotasi negatif itu sampai sekarang masih seperti itu anggapan tentang tari tayub ini? Lalu masihkan banyak diadakan pagelaran tari tayub ini pada masa sekarang?. Dengan keterbatasan dan kedangkalan pengetahuan saya tentang kesenian tari tayub ini saya ingin mengulas dan merangkum beberapa fakta tentang kesenian tari tayub Jawa Timur ini.

Tayub Tulungagung

Tayub Tulungagung, sumber dari sini

Saya masih ingat jaman saya masih SD dulu dirumah salah seorang perangkat desa yang terpandang dimana saya tinggal di Tulungagung Jawa Timur,sedang menggelar hajatan dan disitu diadakan pagelaran tari tayub. Lemah gemulai para penari yang berdandan cantik dengan kebaya dan kain batik, berlenggak lenggok menari diiringi gending gending dari gamelan yang dimainkan para penabuh secara langsung. Kemudian para penari tayub tersebut menari secara berpasangan dengan para tamu yang datang.

Saya kecil yang saat itu melihat pagelaran itu sedikit banyak sudah tidak objektif lagi menilai tari tayub sebagai salah satu kesenian yang indah dan penuh nilai, karena terus terang saat itu dalam pikiran saya sudah teracuni anggapan sebagaian besar masyarakat didesa saya saat itu terutama dari kaum santri yang menganggap bahwa pagelaran tari tayub itu lebih banyak maksiatnya. Disalah gunakan sebagai ajang untuk mabuk mabukan, berpesta dan juga bermain mata dengan perempuan. Karena banyak selentingan yang beredar bahwa banyak dari para penari tayub yang berdandan cantik dengan kebaya dan kain jarik yang nampak anggun itu  memanfaatkan keadaan untuk memikat para lelaki hidung belang. Begitu seterusnya apa yang ada dalam pikiran saya itu tertanam, sampai pada akhirnya karena tugas kuliah saya saat saya masih duduk dibangku kuliah saya mencari literatur,berdiskusi dan banyak bertanya dengan para seniman dan pecinta tayub di tanah kelahiran saya, membuat saya bisa lebih terbuka memandang seni tari tayub ini  sebagai satu kesenian daerah yang perlu dilestarikan dan penuh nilai nilai luhur. Masalah konotasi negatif yang melekat didalamnya itu adalah penyalahgunaan sebagian besar oknum yang memanfaatkannya sehingga pada akhirnya merusak nilai nilai yang ingin di usung dalam tari tayub ini. Belum lagi keberadaan pagelaran tari tayub yang biasanya dilaksanakan hanya di desa desa terpencil saat itu membuat tayub semakin hari semakin terpinggirkan.

Berdasarkan referensi  catatan berita  di Suara Merdeka Online  yang ada disini (http://www.suaramerdeka.com/harian/05)11/23/bud2.htm Tanggal artikel Rabu, 23 Nopember 2005, saya mendapatkan sebuah artikel yang menarik dap tentang tari tayub,dalam judul artikelnya “Tayub Bukan Tarian Mesum”. Berikut petikan artikel tersebut;

Anggapan tayub sebagai tarian mesum merupakan penilaian yang keliru. Sebab, tidak seluruh tayub identik dengan hal-hal yang negatif. Dalam tayub, ada kandungan nilai-nilai positif yang adiluhung. Selain itu, tayub juga menjadi simbol yang kaya makna tentang pemahaman kehidupan dan punya bobot filosofis tentang jati diri manusia.

Kesan tayub sebagai tarian mesum muncul pada abad 19. Pada 1817, GG Rafles dari Inggris, dalam bukunya berjudul ”History of Java”, menulis tayub sebagai tarian ronggeng mirip pelacuran terselubung. Kesan sama juga dituliskan oleh peneliti asal Belanda, G Geertz dalam bukunya ”The Religion of Java”.

Tapi, menurut koreografer Tayub Wonogiren, S Poedjosiswoyo BA, orang Jawa akan protes bila kesan Rafles dan Gertz itu diterima secara utuh. Sebab, kata dia, kesan mesum yang diberikan pada tayub hakikatnya terbatas pada pandangan sepintas yang baru melihat kulitnya saja, tanpa mau mengenali isi maupun kandungan nilai filosofisnya.

Dalam buku ”Bauwarna Adat Tata Cara Jawa” karangan Drs R Harmanto Bratasiswara disebutkan, tayuban adalah tari yang dilakukan oleh wanita dan pria berpasang-pasangan. Keberadaan tayub berpangkal pada cerita kadewatan (para dewa-dewi), yaitu ketika dewa-dewi mataya (menari berjajar-jajar) dengan gerak yang guyub (serasi).

Menurut Poedjosiswoyo, berdasarkan sejarahnya, tayub lahir sebagai tarian rakyat pada abad Ke XI. Waktu itu, Raja Kediri berkenan mengangkatnya ke dalam puri keraton dan membakukannya sebagai tari penyambutan tamu keraton. Betapa tayub memiliki kandungan nilai adiluhung, kiranya dapat disimak dari tulisan dalam buku ”Gending dan Tembang” yang diterbitkan Yayasan Paku Buwono X.

Dalam buku itu disebutkan, tayub telah dipakai untuk penobatan Prabu Suryowiseso sebagai Raja Jenggala, Jawa Timur, pada abad XII. Keraton Jenggala kemudian kemudian membakukan tayub sebagai tari adat kerajaan, yang mewajibkan permaisuri raja menari ngigel (goyang) di pringgitan untuk menjemput kedatangan raja.

Nilai Agamis

Tayub juga diyakini memiliki kandungan nilai agamis. Hal itu terjadi pada abad XV, ketika tayub digunakan sebagai media syiar agama Islam di pesisir utara Jawa oleh tokoh agama Abdul Guyer Bilahi, yang selalu mengawali pagelaran ayub dengan dzikir untuk mengagungkan asma Allah.

Merunut pada sejarah tari tayub ini dari buku yang pernah saya baca dan juga hasil dari browsing diinternet hari ini, Tayub yang berasal dari kata tata dan guyub (jawa: kiratha basa), yang artinya bersenang-senang dengan mengibing bersama penari wanita. Pagelaran tari tayub ini adalah bentuk seni pertunjukan masyarakat Jawa yang berwujud tarian berpasangan antara penari dengan pengibing.Didaerah Jawa barat penari perempuan  dalam tayub ini dikenal dengan sebutan ronggeng, sedangkan di daerah Jawa timur seperti didaerah tulungagung penari tayub perempuan dikenal sebagai “Tledek”.Penari Tayub biasanya mengawali pentas dengan membawakan Tari Gambir Anom, sebuah tarian klasik dengan gaya lemah lembut. Setelah itu, mereka menarikan irama-irama yang sedikit rancak dengan lagu lagu seperti dari campursari atau langgam jawa. Yang unik dari tarian ini adalah ikut sertanya para penonton atau tamu untuk menari bersama dengan penari Tayub. Tamu yang dipandang terhormat biasanya akan didaulat ikut menari dengan ditandai dikalungkannya sebuah sampur.Tari Tayub adalah tari pergaulan tetapi dalam perwujudannya bisa bersifat romantis dan bisa pula erotis. Biasa ditarikan oleh penari wanita dan selalu melibatkan penonton pria untuk menari bersama (pengibing). Yang menjadi perhatian disini adalah dalam setiap pertunjukan selalu didominasi oleh penonton pria, sebab pria disini sebagai obyek bagi para penari wanita untuk dapat menari bersama mereka dan diharapkan memberi sedikit imbalan (berupa uang = sawer).

Pada awalnya pagelaran tari tayub ini dilaksanakan sebagai perwujudan tari untuk menyambut tamu dalam suatu perhelatan acara. Begitu pula dari yang saya dengar cerita di tempat kelahiran saya, bahwa tari tayub dulu begitu terkenal dan menjadi tontonan rakyat. Pagelaran tari tayub biasanya dilaksanakan dalam pembukaan musim “giling tebu” dipabrik gula-pabrik gula  yang ada dipulau jawa atau biasa didaerah saya dikenal dengan istilah dalam bahasa jawanya “Bodho Pabrik” atau kalo diterjemahkan dalam bahasa indonesia adalah hari raya-nya atau perayaan untuk pabrik akan mulai giling tebu untuk memproduksi gula. Disitu para petinggi pabrik gula berpesta dengan meriah dan tayub dijadi tontonan untuk masyarakat. Akan tetapi pada masa jaman penjajahan dulu ikut membawa pengaruh buruk dan penggambaran yang buruk dari pagelaran tari tayub ini.

Budaya  Bangsa penjajah membawa budaya minum minuman keras dan juga menjadikan selir atau istri simpanan para penari tayub ini, sehingga membuat kesenian tari tayub ini menjadi semakin berkonotasi negatif atau penggambaran atau citra negatif dan pada akhirnya membuat kesenian tari tayub ini menjadi terpinggirkan dan semakin hari seiring dengan perkembangan jaman sudah tidak lagi diminati oleh masyarakat.

Hal yang penting diketahui adalah meskipun tayub merupakan pertunjukan yang sangat kontroversial, namun pada hakikatnya pertunjukan tersebut syarat dengan norma-norma dalam masyarakat. Dan norma kesopanan mendapat peranan utama. Karena tanpa dilandasi dengan norma tersebut, maka bentuk adiluhung yang dijunjung dalam tayub akan sirna. Salah satu bentuknya adalah setiap penampilan selalu ada jarak antara tledhek dan pengibing. Selain sebagai jarak untuk menari, hal tersebut juga menghilangkan kesan negatif saat keduanya menari bersama.(Referensi sumber dari sini)

Berdasarkan ulasan salah seorang pemerhati seni kebudayaan tayub tulungagung yang saya baca dari sumber disini, Tari tayub bukan hanya sekedar tari tarian bersenang senang antara penari wanita dan pengibing tanpa ada nilai dan tujuan yang ingin dilaksanakan. Namun ternyata dalam setiap pertunjukan tayub ternyata telah ditata sedemikian rupa layaknya pertunjukan resmi. Hal ini dapat diartikan bahwa pertunjukan tayub digelar bukan saja hanya untuk menari bersama pengibing saja. Namun selebihnya juga bisa dilihat dari ritual tertentu. Sebab disini juga selalu menggunakan sesaji guna kelancaran pertunjukan tersebut. Berikut ini adalah susunan dari  pertunjukan Tayub di Tulungagung.

1. Nguyu-uyu
Nguyu-uyu secara etimologis  berasal dari kata “manghayu-hayu”  yang artinya penghormatan kepada semua tamu yang hadir sebelum acara tayub dimulai. Jadi nguyu-uyu yang dimaksudkan adalah membunyikan beberapa gending dan nyanyian dengan karawitan jawa yang fungsinya untuk memberikan penghormatan kepada para hadirin yang datang lebih awal sebelum acara dimulai.

2. Bedhayan
Merupakan tarian pembuka sebelum pertunjukan tayub dimulai. Biasa dilakukan oleh dua penari atau lebih. Adapun tariannya teradaptasi dari Bedhaya Gaya Yogyakarta dan Surakarta.

3. Talu
Sebelum pergelaran tayub dimulai terlebih dahulu dibunyikan lagu (gending)  sebagai penghantar. Rangkaian gending yang sudah ditentukan ini disebut talu atau patalon, berasal dari kata talu (bertalu-talu) menunjukkan pada cara membunyikan, tapi ada yang menyatakan sebagai berasal dari kata telu (tiga).

4. Beksa
Beksa, joged atau tari, mempunyai pengertian yang sama, ham-beksa  atau  an-joged artinya “menari”, dalam hal ini yakni menarikan gerak khas Langen Tayub Tulungagung. Disinilah pertunjukan tayub dimulai. Dengan beberapa keahlian para tledhek dan antusias pengibingnya. Pertunjukan biasa berlangsung hingga tengah malam, tergantung dari tuan rumah yang mengadakan.

Lantas pada jaman dahulu untuk apa sebenarnya para leluhur kita  mengadakan pagelaran tari tayub ini diadakan dalam masyarakat Jawa? Menurut apa yang saya baca dari sumber disini , Fungsi dari diadakannya pagelaran Tari Tayub ini menurut luluhur Jawa pada jaman dahulu adalah sebagai berikut;

1. Upacara Pubertas
2. Upacara Inisiasi
3. Percintaan
4. Persahabatan
5. Upacara Kematian
6. Upacara Kesuburan
7. Upacara Perburuan
8. Upacara Perkawinan
9. Pekerjaan
10.Perang
11.Lawakan
12.Perbincangan
13.Tontonan
14.Pengobatan

Tayub dulunya bersifat sakral, dan “profan” atau yang religious, namun dari waktu kewaktu fungsi tayub ini semakin berubah fungsi karena pergesaran budaya dan perkembangan jaman. Pagelaran tari tayub saat ini di mulai digalakan dan dilestarikan lagi sebagai aset budaya daerah yang bisa digunakan untuk kepentingan promosi pariwisata didaerah. Seperti di yang pernah saya baca di kabupaten Blitar sebuah kabupaten di daerah Jawa Timur beberapa waktu yang lalu diadakan pagelaran tayub yang masuk pencatatan rekor MURI karena ada penari yang berhasil menari selama 17 jam nonstops.Kemudian ada pagelaran tari tayub yang masuk pencatatan rekor MURI lainnya karena menampilkan penari Tayub terbanyak. Hal-hal positif yang saat ini berusaha ditampilkan pemerintah daerah dan berupaya mengembalikan pagelaran tari tayub dengan penggambaran yang positif. Misalnya untuk promosi potensi dan wisata kesenian daerah. Banyak ragam acara dilaksanakan pemerintah daerah dalam upaya mulai melestarikan tradisi dan budaya tari tayub ini. Banyak perlombaan tari tayub diadakan  untuk menggali potensi dan mengenalkan budaya tari tayub kepada generasi muda. Para pecinta kesenian tayub ini biasanya juga menggabungkan diri dalam suatu paguyupan atau perkumpulan dan mengadakan arisan pagelaran tayub agar setiap bulannya paling tidak bisa diadakan pagelaran tayub ditempat salah seorang anggota yang menarik arisan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk melestarikan budaya pagelaran tari tayub di daerah.

Festival Tari Tayub terlama di Blitar, Sumber dari sini

Sekedar berbagi informasi bagi yang belum mengerti dan melihat budaya pagelaran tari tayub itu seperti apa, mungkin bisa melihat salah satu contoh pagelaran tari tayub yang diadakan dalam rangka hajatan khitanan putra tercinta didaerah Tuban, Jawa Timur,tari tayub yang dilaksanakan dalam rangka hajatan click disini.

Meskipun saya bukan pecinta tari tayub ini, tapi sebagai generasi penerus bangsa rasanya saya juga tidak rela jika kebudayaan daerah seperti tari tayub ini dikemudian  punah atau tidak lestari tergantikan budaya yang berasaldari luar. Atau malah yangterburuk jangan sampai budaya tari tayub yang asli merupakan budaya jawa ini tiba tiba ada dan diklaim dari negara tetangga,seperti yang sudah sudah. Untuk itulah kita sebagai generasi penerus bangsa setidaknya berupaya untuk menjaga kebudayaan kita seperti budaya tari tayub ini agar tetap lestari.

Artikel ini diikutsertakan dalam Jambore On the Blog 2012 Edisi Khusus bertajuk Lestarikan Budaya Indonesia.

About mama-nya Kinan

Ghina Artya Kinanthi, Anak perempuan pertamaku. Semoga kami bisa menjadi keluarga Yang Sakinah, Mawadah dan Warohmah, bisa membimbing dan m
This entry was posted in Gado-gado and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

19 Responses to Keberadaan Kesenian Tari Tayub Jawa Timur

  1. naniknara says:

    jurnalis sejati, rajin sekali mencari referensi. Jadi komplit tulisannya. semoga menang kontesnya

  2. Nh Her says:

    Informasinya sangat lengkap Bu …
    Dan memang betul yang ibu katakan … ada konotasi negatif untuk jenis tari yang satu ini …
    saya rasa di beberapa daerah juga muncul anggapan sejenis untuk tari seperti ini ….

    namun demikian saya rasa ini semua tergantung pada pelaku seninya …
    jika mereka tetap menjunjung tinggi nilai budaya … saya rasa anggapan tersebut akan hilang dengan sendirinya

    salam saya Bu

  3. Terima kasih atas partisipasi sahabat
    salam hangat dari Surabaya

  4. Lidya says:

    suka ada saweran gitu ya bun tari tayub ini :) semoga sih gak akan begitu lagi

  5. Perilaku masyarakat memang pada akhirnya sering membuat konotasi negatif pada kesenian daerah ya mam…sayang banget, tapi semoga ke depannya gak ada lagi konotasi negatif seperti itu ya mam. Sayang banget kan kalo akhirnya malah negara lain yang mengklaim budaya ini. Tarian tor tor yang sampai sekarang selalu jadi bagian dalam upacara adat Batak aja mo diklaim sama mereka, apalagi kesenian yang mulai ditinggalkan oleh kita…

  6. Applausr says:

    iya dulu pernah lihat tarian ini, sekarang sudah susah juga melihatnya…. kenapa tarian indonesia yang satu ini selalu berkonotasi negatif.. padahal setiap tarian dibuat dgn tujuan yang positif… semoga menang ya…

  7. monda says:

    Kesan negatif bisa saja membuat generasi muda tak mau belajar tari,
    spt biasa mama Kinan selalu lengkap menulisnya, good luck mbak

  8. Zipora Maria says:

    Bagus banget artikelnya mom…
    Saya juga jadi kangen mudik ke kampung halaman suami, Nganjuk. Kalo disana seringnya ada tuh kesenian kuda lumping mom.
    Good luck ya mom

  9. kalau bukan kita yang melestarikan budaya indo, siapa lagi ya mbak?

  10. enno-mama fira says:

    Weewww… Lengkap banget liputannya, mbak….
    Ayo kita lestarikan budaya Indonesia, sebelum diambil sama negara tetangga….

  11. mama hilsya says:

    prok..prok..prok…
    ini dia emak kinan yg aku kenal.. selalu lengkap bikin liputan
    ga kayak daku yg asal nulis aja.. hihihi

  12. cucok tenan jadi reporter buk….

  13. BunDit says:

    Wiiih mantebs nih tulisannya. Good luck ya dengan kontesnya :-)

  14. Pingback: Undian Berhadiah Palsu | My new world

  15. Pingback: Giveaway Azzet: Menjadi Berarti dengan Aktifitas Ngeblog | My new world

  16. Pingback: Punten Pecel Khas Tulungagung | My new world

  17. kiozpulsa.com says:

    kesenian tradisional ini,mungkin bisa di bilang jadul,tapi sekarang kesenian tradisional ini akan terus dilestarikan sampai mancanegara.
    saya sangat setuju,agar budaya-budaya Indonesia ini tidak lagi diklaim oleh negara lain.

  18. Pingback: HaPPy Unniversary 4th Blogcamp, We Love You | My new world

  19. indra says:

    Nek pingin belajar nek ndi ???
    .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s