Senin…Hari Kejepit Nasional

Andai  tak ada Audit pasti  aku apply cuti … … tapi cutiku  tinggal dikit  dan prepare buat back to village..alias balek kampung…. Jadi 2 alasan yang berkaitan itulah akhirnya, finally tetap masuk kerja seperti biasa…(maaf yah Ms.chris – my superior and  Mrs. Jamie –my manager – kalo kalo aja mbaca postinganku ini..huahuahau…ya pastilah enggak baca gitu lho…:P..dasar karyawan yang nggak patut diteladani neh…hehehe… Jadilah senin bener2 kejepit.. coba bayangkan kalo senen juga libur  berarti kan bisa sabtu, minggu, senin dan selasa…wuahhhhhh  senangnya…hehehe…. Pingin berlama lama sama kinanku…dua hari weekend rasanya tak cukup..

Malah pagi pagi…dapat email forward-an dari rekan….Judulnya BEGINILAH PERASAAN PARA BUNDA YG BEKERJA, SETUJU TAK..?”… dan kubalas

 ”Walah mbak ocha…bikin aku nangis aja pagi pagi..hari senin pula..:( soalnya baru mulai masuk lagi…setelah 2 hari weekend sama sikecil…

Ya, mbak ocha sangat mewakili….perasaan emak yang bekerja ini…sedih rasanya….tak kerja juga gimana, bekerja si kecil jadi berkurang waktunya  dengan kita…..insyallah ada hikmah yang besar dibalik semua ini  mbak ocha…anyway thanks emailnya…:) ”

 Saat kubaca…hiks hiks hiks…jadi sedih…tak terasa netes…(gembeng alias cengeng dot com)……

ijin mengcopy paste yah…buat bunda  ocha yang mem-forward tulisan dibawah ini dan juga buat bunda Yeni Andriaty yang nulis —  untuk aku share di blog ku…

Bidadari Kecilku
    • Yeni Andriaty

Paras cantik itu tersenyum, sejenak dan aku tersentuh.
Dalam tidurnya, Bidadari Kecilku sedang bermimpi indah atau mungkin ia sedang memimpikan bermain dengan diriku. Mimpi itu telah mempersembahkan senyum manis meski jiwanya lelap dibuai malam. Kudengar dengkur halusnya ketika kurapikan beberapa helai anak rambut yang jatuh di pipinya. Ia begitu cantik, tenang dan memberiku rasa damai, setiap kali aku melihatnya terlelap.
Masih jelas dalam benak ketika pagi tadi Bidadari Kecilku bertanya:
“Bunda, hari ini hari apa?”
“Senin, Nak. Dan kamu tahu kalau hari Senin Bunda haruuss….” Aku menggantungkan kalimat, menunggu ia melengkapinya. Seperti biasa, ya seperti biasa.
“… kerja,” ujarnya, melengkapi kalimatku yang sengaja kugantung seperti biasanya.
Wajahnya yang polos seolah paham akan rutinitas dan kalimat yang menyertai sebagai sebuah keharusan yang mesti kulakoni. Kerja! Ya, kerja. Semua manusia mesti kerja untuk dapat terus hidup.
Tetapi tidak selamanya si Kecilku ini akan manut memahami kondisi yang sudah menjadi denyut nadi kehidupan kita, tentu saja dengan pola pikir sederhana kanak-kanak. Dan satu-dua kali ia melayangkan sanggahan sebagai protes yang tiap kali begitu hanya dapat kulakukan dengan tersenyum, dan mengecup dahinya kemudian.
“Bunda, bisa nggak kalau hari ini Bunda nggak usah kerja?” Pertanyaan kedua ia ucapkan dengan nada yang sama. Polos apa adanya. Sebentuk ruap kecewa yang telah kupahami sedari dulu.
“Lho, memangnya kenapa Bunda nggak boleh kerja?” tanyaku, lalu tersenyum. Paham protes kecilnya yang sekali-dua dilontarkan bila ia sudah jenuh dengan sepi.
“Habis, Bunda kalau kerja pulangnya lama. Aku nggak ada teman. Aku mau main sama Bunda hari ini!”
Aku memejamkan mata. Meresapi kalimat yang seperti godam dan menohok sesaat tadi dengan rasa sakit. Setiap kali, setiap saat ia bilang begitu, hatiku serasa tertusuk ribuan jarum.
“Masa sih setiap hari Bunda mesti pergi kantor?”
Dalihku menyanggah. “Tapi, hari Minggu kan Bunda selalu bersama kamu? Hm, kita bisa bermain bersama, jalan-jalan, dan….”
“Itu hari Minggu, Bunda. Tapi hari Senin kan Bunda nggak pernah….”
Kutelan ludahku dengan susah payah. Mendengar alasannya melarang aku pergi ke kantor pagi itu, aku merasa ingin memiliki dua raga sekaligus sehingga dapat bertransformasi: satu raga untuk kerja, dan satu lagi raga untuk terus dapat memeluk Bidadari Kecilku ini!
Tetapi langit seperti tak mengindahkan permintaanku. Takdir dan nasib manusia harus dijalani. Sepahit apa pun itu. Dan aku mesti kerja untuk sesuap nasi. Agar nyawa dapat terus tersambung!
Ah, andai saja ia tahu: aku rela menukar seluruh waktu yang aku punya untuk bisa terus memeluknya. Aku bahkan rela tidak pernah mendengar satu pujian apapun dan dari siapa pun, kecuali mendengar ia mengucapkan:
“Aku sayang Bunda!”
Aku berlulut di hadapannya, dengan penuh kesabaran dan menahan haru aku berucap:
“Bunda janji untuk pulang cepat hari ini, setelah itu kita bisa main bareng, ya?”
Bola mata mungilnya bersinar seperti bintang kecil di langit kelam kala ia mengangguk. “Benar, Bunda?!”
Aku mengangguk lekas, berusaha menahan gumpalan airmata yang hendak tumpah.
“Iya, iya. Tapi kamu juga harus janji untuk tidak nakal hari ini, dan harus tidur siang.”
Ia mengangguk lagi sebagai tanda mengerti, lalu mengambil tanganku untuk diciumnya—kebiasaan yang memang aku tanamkan pada dirinya. Aku membalasnya dengan mencium kedua pipinya lalu menitipkannya pada Wari, gadis yang aku gaji setiap bulannya untuk menjaga Bidadari Kecilku sejak dua tahun yang lalu.
“Titip ya, War. Jangan lupa, kasih minum vitaminnya ke Khansa, ya?” pesanku pada Wari.
“Baik, Bu,” angguknya patuh.
Aku berlalu dari hadapan mereka untuk segera tiba di kantor.
Hari ini, ada bahan meeting yang harus aku siapkan segera. Lagipula, jika aku bertahan lebih lama lagi dengan Khansa, aku yakin tidak akan pernah tiba di kantor karena akan kalah bertarung dengan keinginan Khansa dan juga keinginan hati kecilku sendiri.

***

Aku masih merapikan rambut Bidadari Kecilku, tak pernah bosan aku memandanginya, bagian dari jiwa dan nyawaku, hadiah dari Tuhan yang dititipkan-Nya untuk diriku. Tak terasa waktu berlalu, minggu depan ia genap berusia empat tahun. Seperti masih kemarin, kenangkku, pada saat aku berjuang mempertaruhkan nyawa agar Bidadari Kecilku bisa melihat dunia tanpa terhalang lagi oleh dinding perutku. Hampir tujuh jam lamanya aku menahan rasa sakit yang mahadahsyat, berada dalam sadar namun berharap itu hanyalah mimpi. Dan ketika akhirnya tangisan itu memecah dunia, tak henti aku berucap syukur pada Illahi. Terlahir sudah seorang bidadari ke bumi ini, teman sejatiku, penghibur laraku dan sumber kekuatan hatiku. Hidupku tidak akan pernah sama lagi dan kelak Ialah yang akan membuatku merasa bangga akan keberadaanku di dunia ini.
Dengan sangat hati-hati karena takut membuatnya terjaga, aku mencium kedua pipi juga keningnya. Dalam temaram malam aku berucap pelan di telinganya:
“Bunda janji, Nak. Bunda akan terus hidup, bukan untuk meraih impian Bunda melainkan hanya karena Bunda ingin melihat kamu meraih semua impian kamu. Bunda janjikan yang terbaik hanya untuk kamu dan kemana pun kamu melangkah, Bunda tidak akan pernah membiarkan kamu tersesat karena di manapun kamu ada, jiwa Bunda akan selalu menemani kamu!”
Tanpa sadar airmataku jatuh satu-satu seperti landung embun dari pucuk dedaunan.
Kukecup kembali keningnya, dan Bidadari Kecilku tersenyum dengan manis dalam pejam matanya.
Saat itu aku yakin ia mendengar janjiku.

About mama-nya Kinan

Ghina Artya Kinanthi, Anak perempuan pertamaku. Semoga kami bisa menjadi keluarga Yang Sakinah, Mawadah dan Warohmah, bisa membimbing dan m
This entry was posted in Gado-gado. Bookmark the permalink.

7 Responses to Senin…Hari Kejepit Nasional

  1. Lidya says:

    mampir ke blognya mama kinan, salam kenal ya

  2. Hehehe saya awalnya jga pengin cuti pas harpitnas tp krn sblmnya sdh cuti banyak waktu ART mudik jadinya menahan diri. Ngeman-ngeman cuti buat lebaran nanti🙂

  3. dina.thea says:

    Kunjungan perdana, salam kenal🙂, ceritanya jadi inget anak di rumah , jadi ingin pulang

  4. yeni says:

    salam kenal ya bund…boleh tau id facebookmu ga…

    rgds//yeni andriaty

    Thanks mbak mau berkunjung dimari…tulisannya bagus dan berguna buat saya …:) saya dah inbox ke mail nya yah mbak..thank adding me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s