Anak Belajar dari lingkungannya

“Would you tell me, please, which way i ought to go from here?”
“That depends a good deal on where you want to get to,” said the Cat
“I don’t much care where–“said Alice.
“Then it doesn’t matter which way you go,” said the Cat
” __So long as i get Somewhere,” Alice added as an explanation.
“Oh, You’re sure to do that,” said the Cat, “if you only walk long enough.”
(Lewis Carroll – Alice’s Adventures in Wonderland)

Begitulah sebuah kutipan percakapan antara Alice dan sang Kucing yang saya dapat dari sebuah buku yang pernah saya baca, buku tentang Psikologi Perkembangan Anak. Pasti bertanya-tanya kenapa saya memakainya sebagai intro dalam tulisan saya ini. Saya hanya ingin menggambarkan bagaimana tentang Alice yang bertanya kepada seekor kucing tentang jalan yang harus dia lewati, dan oleh sang kucing dijawab dengan jawaban yang tidak kalah filosofis dan mengajak alice untuk berpikir lagi dengan sebuah jawaban.

Masih bingung juga dengan maksud kutipan diatas?. Ya, saya ingin menggambarkan tentang bagaimana kalo pertanyaan itu diajukan oleh kita sebagai orangtua tentang bagaimana cara kita mendidik anak-anak kita. Nah jawabannya, ya seperti jawaban sang kucing diatas, semuanya adalah tergantung dari apa yang kita inginkan sebagai orangtua terhadap anak-anak untuk kehidupannya kelak, maka disitulah kita akan menemukan jawaban dari bagaimana cara kita mendidik anak anak kita. Dari jawaban itu pastilah tergambar bahwa setiap orangtua punya cara berbeda beda dalam pola asih, asah dan asuh. Karena pada dasarnya anak itu adalah unik tidak bisa kita banding bandingkan dan juga kita berikan “treatment” yang sama antara anak yang satu dengan anak yang lainnya.

Menjadi orangtua adalah proses seumur hidup. Ketika kita sudah diberikan amanah oleh Allah SWT seorang anak,tidak ada kata bagi kita istilahnya untuk berhenti atau pensiun jadi orangtua kecuali takdir dari Allah SWT yang memutuskan kehendaknya kepada kita sehingga kita tidak bisa meneruskan kehidupan kita didunia ini.*semoga kita semua diberikan umur panjang oleh Allah SWT agar kita bisa membimbing anak anak kita kelak dan melihat mereka tumbuh besar, bersekolah, bekerja, berkeluarga dan melihat anak cucu kita kelak-amien*. Karena menjadi orangtua bukanlah sebuah profesi melainkan sebuah tugas suci dan kodrat setiap manusia yang ada dimuka bumi ini. Menurut saya tidak ada pakem atau standard bagaimana supaya kita bisa menjadi orangtua yang baik bagi anak anak kita. Karena hal tersebut adalah sebuah proses. Proses belajar seumur hidup kita. Dan karena tidak ada sekolah khusus untuk mendidik kita menjadi orangtua yang baik maka kita bisa belajar menjadi orangtua yang baik lewat pengalaman yang kita dapatkan dengan keluarga kita, dari kedua orang tua kita dulu bagaimana mereka mengasuh kita, dan juga ditambah dengan berbagai macam teori teori tentang keluarga dan bagaimana menjadi orangtua yang baik untuk anak anak kita. Hendaknya kita selalu aktif memperbarui ilmu kita sebagai bekal mengasuh anak anak kita. Walaupun tidak semua teori teori yang kita dapatkan itu bisa diterapkan atau kita pakai, tapi setidaknya kita ada gambaran kearah mana dan bagaimana seharusnya kita membimbing, mendidik dan mengasuh anak anak kita.

Hubungan orangtua dan anak, seharusnya adalah sebuah hubungan yang manis, indah, menyenangkan, sesuatu yang mampu membuat dada terasa lega dan senyum cerah tersungging di bibir saat mengingatnya. Hubungan yang seharusnya mampu menyenangkan kedua belah pihak, baik orangtua maupun anak. Karena hubungan orang tua dan anak adalah hubungan dengan penuh cinta dan kasih sayang, hubungan yang tak terbatas, yang hanya dapat tergambarkan dengan mengingat tatapan hangat dan sayang anak kita, ke mata anak kita,serta pelukan dan ciuman sayang mereka. Hubangan yang indah ini tidak bisa kita bangun sehari atau dua hari. Melainkan melalui sebuah proses, dari mulai bayi didalam kandungan. Kita sebagai orang tua harus member perhatian semenjak si kecil ada dalam kandungan. Menunjukkan betapa kita orangtuanya ini sayang dan menunggu kehadirannya ditengah keluarga. Menyiapkan segala sesuatunya untuk kelahiran buah hati yang dinanti, tidak hanya berupa material namun juga mental kita untuk menjadi orangtua, agar kelak kita siap menerima kehadiran buah hati dengan suka cita.

Persiapkan mental calon Ibu agar benar benar siap dengan kelahiran si kecil yang dinantinya. Perhatikan Asupan Gizi selama dalam kandungan dan juga tentunya setelah kelahiran si kecil. Karena setelah kelahiran si kecil ke dunia tugas dan tanggung jawab orangtua semakin besar. Terutama seorang Ibu, karena perjalanan dimulai untuk memberikan asupan gizi kepada sang buah hati melalui ASI. Bukan bermaksud mengecilkan peran seorang Ayah, seorang Ayah juga harus tetap berada disamping Istri tercinta saat perjalanan memberikan ASI kepada bayinya. Dukungan dan dorongan seorang Ayah agar isteri bisa terhindar dari Baby Blues. Karena dari pengalaman yang saya alami sungguh tidak mudah. Saya pernah merasa sendirian dan kesepian, dan juga merasa begitu ketakutan beberapa minggu setelah kelahiran anak saya. Ditambah dengan suami saya yang tidak berada disamping saya karena alasan pekerjaan. Alhamdulilah Ibu saya dan keluarga banyak yang membantu saya melewati itu semua. Walaupun secara teoritis ibu saya yang orang kampung tidak mengerti istilah “Baby blues Syndrom” tapi setidaknya beliau bisa menenangkan saya melewati itu semua. Untuk itu persiapan mental sebelum kelahiran buah hati sangat diperlukan.

Dari hari ke hari si kecil yang telah lahir kedunia semakin besar dan menggemaskan. Perhatikan asupan gizi, dan berikan stimulus yang merangsang pertumbuhan kesehatan fisik dan mentalnya. Berikanlah lingkungan dan ruang yang nyaman untuknya tumbuh dan berkembang dengan maksimal. Karena menurut saya hal ini juga jadi faktor yang tidak kalah penting untuk pembentukan karakter dan kepribadian anak untuk masa yang akan datang.

Hal yang tidak kalah penting adalah orangtua adalah cermin untuk anak belajar. Sikap kita sehari hari dirumah dan dalam berinteraksi dengan keluarga akan dilihat dan mungkin dicontoh oleh anak kita. Untuk itu sebagai orangtua hendaknya kita bersikap hati hati dan memberikan suri tauladan yang baik untuk anak anak kita baik dalam tingkah laku dan perkataan. Jangan sampai kita memberikan contoh yang tidak baik. Karena bagi anak anak kita, orangtua dan keluarga adalah tempat berinteraksi yang pertama kali bagi mereka. Bayi ibarat sebuah kertas putih pada masa kelahirannya. Setelah itu adalah tugas kita sebagai orangtuanya untuk membentuk dan mewarnai kertas putih tersebut menjadi indah seperti apa yang kita inginkan. Yang tentunya semuanya pasti menginginkan semua kebaikan ada pada anak anak kita kelak.

Pengalaman pribadi saya dengan anak saya kinan yang saat ini berusia 21 bulan. Suatu waktu saya sedang menggendongnya kemudian tidak sengaja pena yang saya pegang jatuh kelantai. Karena keadaan saya yang sedang menggendong kinan dan juga susah untuk jongkok mengambil pena itu dengan tangan saya, tanpa sadar dan berpikir panjang saya langsung mengambilnya dengan menjepitnya dikaki saya baru saya raih dengan tangan saya untuk menjangkaunya. Keeseokan harinya saat kinan bermain saya melihat kinan menjatuhkan mainan, kemudian dia berusaha untuk mengambil mainannya tersebut dengan kakinya tapi tidak dengan tangannya. Saya coba tegur dan mengatakan “Kok ngambilnya pake kaki dek?, Pakai tangan aja yah??” Apa yang dia katakana pada saya saat itu?. Kinan menjawabnya dengan jawaban yang membuat saya tertegun “ Kayak, Mama”. What ???!!!…dari sinilah saya berpikir, Subhanallah mereka belajar dari keseharian yang mereka lihat. Dari semua penghuni rumah dikeluarga kami. Begitu juga dengan perkataan. Dari hal hal kecil inilah kita berusaha memberikan contoh yang baik untuk anak anak kita. Agar apa yang dicontohnya sehari hari adalah hal hal yang baik.

Dari teori yang pernah saya baca tentang “parenting” mengatakan bahwa jangan sekali kali memaksakan kehendak kepada anak anak kita. Padahal jujur ego sebagai orangtua yang merasa berhak memiliki anak tentunya ingin mereka menuruti segala kemauan kita sebagai orangtua. Tapi kembali lagi anak bukan sebuah benda melainkan makhluk hidup jadi kita harus juga memperhatikan keinginan, mimpi dan kebahagiaan mereka. Kita harus kesampingkan ego kita sebagai orangtua dan lebih memilih untuk menjadi orangtua yang bijaksana mengarahkan mereka sesuai bakat dan minat mereka. Saya bersyukur dengan kehidupan saya dengan orangtua saya dulu. Bapak dan Ibu begitu dekat dengan saya, bukan ketakutkan yang saya lihat saat saya harus berdiskusi dengan bapak tentang sesuatu, tapi lebih tergambar sebagai hubungan seorang kawan. Lepas dari itu semua saya tetap menghormati dan menghargai bapak sebagai orangtua saya. Bapak dan Ibu memberikan kebebasan penuh pada saya untuk memilih kegiatan yang saya sukai dan inginkan yang tentunya selama itu tidak melanggar norma dan etika atau tata krama. Mereka mengarahkan dan juga menjembatani serta mengawasi saya agar tetap pada jalur yang benar. Istilahnya memastikan bahwa apa yang jadi pilihan saya dan juga keinginan saya sudah benar dan membuat saya bahagia.

Dan hal inilah yang ingin juga saya lakukan untuk kinan kelak. Saya ingin kinan anak saya dekat dengan Ayah dan Mamanya, sebagai teman berbagi, tapi tetap hormat dengan orangtuanya. Menjembatani dan memberikan gambaran dengan berbagai macam pilihan kegiatan sesuai bakat dan minatnya. Tentunya disesuaikan dengan kemampuan dan minat anak. Saya tidak akan memaksakan kehendak saya untuk kinan ikut kelas balet, kalo anaknya tidak suka dan lebih memilih seni beladiri teakwondo misalnya. Tapi dengan alasan yang jelas dan masuk akal. Tidak harus kita turuti semuanya. Misalnya nggak mau ikut balet karena ada kawannya yang suka jahil atau gurunya galak. Hal hal seperti ini yang harusnya bisa kita diskusikan dan cari jalan keluarnya bersama. Tidak bersikap otoriter. Bagaimanapun juga semua untuk masa depan dan kebahagian mereka. Biarkan mereka menikmati masa kecilnya yang indah agar kelak pondasi kepribadian dan kemandirian yang kita bangun untuk mereka kuat dan mereka siap menghadapi kehidupan ini. Sebagai orang tua kita harus jeli melihat potensi, bakat dan minat anak kita pada suatu hal yang disukainya sehingga sejak dini kita bisa mengarahkannya dan membimbing kearah pencapaian cita-citanya. Berusaha membekalinya dengan berbagai keterampilan dasar yang mereka harus punyai, setelah itu untuk lebih lanjut pengembangannya biarkan mereka yang memilih lebih dalam kegiatan apa yang kiranya sesuai bakat, minat dan kemampuan yang dimilikinya.

Bagi saya tidak ada istilah anak yang bandel atau nakal. Saya sangat setuju dengan ungkapan ini. Dan sayapun berusaha untuk tidak memberikan labeling ini untuk anak saya maupun anak anak yang lainnya. Yang ada bagi saya anak-anak itu pintar dan punya cara sendiri untuk mengungkapkan rasa hatinya. Jadi bukan kata kata bandel atau nakal yang akan saya pakai untuk mengungkapkan tentang itu. Yang lebih tepat dan akan saya lakukan adalah memberikan apresiasi atas apa yang telah mereka lakukan misalnya dengan mengatakan tentang hal mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Dengan pembiasaan dan konsisten dengan ini insyallah kita bisa mengarahkan anak kita untuk berperilaku yang baik dan penuh kerjasama. Jelaskan juga kenapa kita tidak boleh melakukan hal hal yang buruk yang merugikan dan akibat negatif lainnya.Hal seperti inilah yang menurut saya justru mengena dan akan diingat anak anak. Memberitahukannya dengan penuh kasih sayang tidak dengan makian,teriakan amarah dan kebencian yang justru membuatnya akan semakin nekad melakukan hal hal yang kita larang untuk dilakukan. Empati dan komunikasi yang baik dan efektif antara orangtua dan anak akan membuat mereka kooperatif dengan kita dan dengan aturan yang kita berikan untuk mereka.

Tindak kekerasan dalam mendidik anak tidak perlu dan jangan sampai kita lakukan kepada anak-anak kita. Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah tapi justru akan menimbulkan masalah baru. Kebencian dan dampak negatif yang lainnya akan muncul apabila kita memaksakan kehendak kita dengan kekerasan kepada anak anak kita. Membuat anak anak disiplin tidak hanya dengan kekerasan tapi kita bisa menggunakan cara memberikan “reward” atau hadiah untuk membuat mereka lebih sadar akan tugas dan tanggung jawabnya. Misalnya meminta anak untuk belajar dengan giat, tidak perlu dengan kekerasan dan ancaman. Kita bisa memberikan reward atau penghargaan untuknya apabila belajar dengan rajin dan mampu berprestasi disekolah maka Ayah atau Mama akan memberikan hadiah atau mengajak berlibur.

Saya pernah membaca tentang bagaimana pesan dari seorang Bijak, yang meminta kita sebagai orangtua untuk mendidik anak anak kita dengan sabaik baiknya, karena jaman yang kita lewati tidak sama dengan jaman anak anak kita kelak lewati. Dari pernyataan diatas kurang lebihnya adalah tentang perkembangan jaman yang begitu cepat. Tehnologi yang berkembang begitu cepat dengan segala dampak positif dan negatif. Seperti munculnya media teknologi yang semakin canggih seperti komputer, internet, telepon genggam, video game, situs jejaring sosial dan sebagainya. Saya tidak anti terhadap perkembangan teknologi tersebut, karena bagaimanapun saya tidak ingin anak saya menjadi anak anak yang gaptek alias gagap teknologi. Saya juga tidak akan mengekang mereka dengan tidak membolehkan mereka menggunakan piranti piranti perkembangan teknologi. Justru saya ingin mereka mengenal media media tersebut dengan berbagai kelebihannya yang tentunya ini juga bermanfaat bagi kehidupan kita. Sedangkan penggunaannya tentunya dengan seijin atau dalam pengawasan kita sebagai orangtua dan disesuaikan dengan tahapan umur. Jadi kita sebagai orangtua harus memantau penggunaan teknologi ini oleh anak anak kita, kita harus update dan tahu mana fitur yang boleh dimainkan oleh anak anak kita dan mana yang tidak boleh. Mendampingi dan memberikan pengawasan agar jangan sampai dampak negatif dari teknologi tersebut menimpa anak anak kita. Begitu juga dengan pengaturan waktu saat kapan mereka boleh menggunakan atau bermain dengan komputer, game atau yang lainnya. Jangan sampai membiarkan mereka sendiri dan juga tidak mengenal waktu dalam penggunaannya. Memberikan kebebasan bukan berarti kebebasan yang sebebas bebasnya akan tetapi kebebasan bersyarat dengan situasi dan kondisi yang kita tentukan agar dampak negatifnya tidak meracuni pikiran jernih anak anak kita.

Dari tulisan tulisan saya diatas rasanya begitu teoritis.Akan tetapi saya yakin tidak ada yang tidak bisa kita coba untuk terapkan untuk anak anak kita. Agar anak anak kita tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang bermoral dan penuh kualitas serta mampu bersaing dalam kehidupan nyata kelak. Semua berawal dari hal hal kecil yang kita contohkan dan terapkan untuk mereka dalam keluarga. Karena keluarga adalah tempat pertama interaksi mereka dengan dunia nyata.

Berikut ini juga saya sertakan catatan dari Dorothy Law Nolte sebuah catatan tentang karakteristik anak-anak yang dibesarkan sesuai dengan lingkungannya.

Bila seorang anak hidup dengan kritik,

Ia belajar untuk menyalahkan.

Bila seorang anak hidup dengan rasa benci,

Ia belajar bagaimana berkelahi.

Bila seorang anak hidup dengan ejekan,

Ia belajar menjadi pemalu.

Bila seorang anak hidup dengan rasa malu,

Ia belajar merasa bersalah.

Bila seorang anak hidup dengan toleransi,

Ia belajar menjadi sabar.

Bila seorang anak hidup dengan semangat,

Ia belajar kepercayaan diri.

Bila seorang anak hidup dengan pujian,

Ia belajar untuk menghargai.

Bila seorang anak hidup dengan rasa adil,

Ia belajar tentang keadilan.

Bila seorang hidup dengan rasa aman,

Ia belajar memiliki iman.

Bila seorang anak hidup dengan persetujuan,

Ia belajar menyukai dirinya sendiri.

Bila seorang anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan,

Ia belajar mencari cinta dalam dunia.

Bila seorang anak hidup dengan kritik,

Ia belajar untuk menyalahkan.

Bila seorang anak hidup dengan rasa benci,

Ia belajar bagaimana berkelahi.

Bila seorang anak hidup dengan ejekan,

Ia belajar menjadi pemalu.

Bila seorang anak hidup dengan rasa malu,

Ia belajar merasa bersalah.

Bila seorang anak hidup dengan toleransi,

Ia belajar menjadi sabar.

Bila seorang anak hidup dengan semangat,

Ia belajar kepercayaan diri.

Bila seorang anak hidup dengan pujian,

Ia belajar untuk menghargai.

Bila seorang anak hidup dengan rasa adil,

Ia belajar tentang keadilan.

Bila seorang hidup dengan rasa aman,

Ia belajar memiliki iman.

Bila seorang anak hidup dengan persetujuan,

Ia belajar menyukai dirinya sendiri.

Bila seorang anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan,

Ia belajar mencari cinta dalam dunia.

– Dorothy Law Nolte –

Tulisan ini saya persembahkan sebagai hadiah terindah untuk Mbak Fitri istri tercinta dari rekan blogger “Bayu ” yang ada di rumah ini. Selamat Ulang tahun yang ke 20 tahun dan selamat menanti kelahiran buah hati tercinta. Happy First Universary untuk pernikahan Bayu-Fitri. Semoga Bahagia selalu, menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah, saling mengasihi dan mengisi dalam suka maupun duka. Saling menghargai dan menghormati satu sama lain sebagai team yang baik dalam membina rumah tangga dan juga mengasuh dan membimbing sang buah hati kelak. * amien.

About mama-nya Kinan

Ghina Artya Kinanthi, Anak perempuan pertamaku. Semoga kami bisa menjadi keluarga Yang Sakinah, Mawadah dan Warohmah, bisa membimbing dan m
This entry was posted in Home, QUIS and Contest and tagged , , , . Bookmark the permalink.

13 Responses to Anak Belajar dari lingkungannya

  1. Lidya says:

    faktor lingkungan juga berpengaruh dengan perkembangan anak ya bun

    saya yakin iya mbak lidya….:), tuh buktinya kak pascal kan..karena mama dan papanya biasa main komputer..nah tuh kan lingkungan keluarga..jadinya kakak pascal juga hobby bermain komputer kan …sip sip…salam buat kakak pascal dan dedek alvin🙂

  2. hilsya says:

    mama kinan ini ternyata berjiwa penulis banget ..🙂

    ok, bayu udah selesai, gantian ke punya aku ya.. ditunggu, hehe

    hehehe…kan ikutan bunda hilsya…menyalurkan hoby ngoceh..daripada ngerumpi sana sini nggak jelas mending nulis tho bun..hehehe…:) hidup jadi berisi dan berwarna dan penuh makna.. Ok bun, insyallah ditunggu postingannya buat mas syafiq dan kakak ..lagi semedi cari wangsit neh..:)

  3. Gaphe says:

    semoga sukses kontesnya, memang beda kalo baca tulisan yang sudah berpengalaman langsung nih. hahaha..

    keren, banyak yang bisa dipelajari.. karena hasil akhir anak menjadi apa tergantung bagaimana proses yang kita jalankan untuk anak kita.

    sumpe tulisanmu juga keren..termasuk pake model anak collega yang digendong tuh..mantep dan dirimu dah pantes “omah-omah” phe…:)

  4. Hiks hiks ekye ga sempet posting draft untuk kuiz ini boo😦

    Semoga sukses yah Mbakyu. Tulisannya bagus banget loh. Dan gw sepakat 100% dengan semua isi tulisannya🙂

    hiks…aku juga semalam bela belain jeng..padahal mepet banget..untung kemarin siang dah bayar internet yang lagi diblokir..terus keganggu pula mau posting kinan tantrum jam 11 ngajak jalan jalan dulu..hiks…biarpun kuis dan lewat dirimu harus tetap posting jeng, share ilmu..dan kangen dengan gaya nulis kocakmu jeng…pasti bikin aku cekikikan🙂

  5. Arif Bayu says:

    Terima ksih partisipasinya mam Kinan, ditunggu pengumumannya……….

    Suwun yah mas Arif bayu…tercatat sebagai kontestan..padahal penuh perjuangan dan last menute banget…mana lemot pisan koneksi internetnya…hampir nyerah…:)

  6. bundamahes says:

    sukses untuk lombanyaaaaaaaaaa…😉

    Sama sama jeng…dirimu juga…wah tulisanmu bagus jeng..” tidak ada sekolah untuk jadi orangtua”…i like that ..

  7. BunDit says:

    Wow tulisannya dalem banget mam. Like this. Semoga menang ya mam🙂

    Amien..meramaikan aja bun…nulis dari rangkuman rangkuman buku yang pernah dibaca, termasuk buku yang bunda kirim kapan hari🙂 thanks bun ..ayo bunda dita semangat berkontes lagi🙂 kangen tulisan bunda dita neh

  8. IbuDini says:

    Ikutan kontes juga ya Mb…senengnya, moga kita berhasil ya mb.
    Begitulah suka duka menjaga anak…banyak tingkah laku yang takterduga.

    Oh ya…mb pertanyaan Senam di postingan yg lalu itu di adakan di kantor kecamatan di jalan Burung , kantor baru Mb.

    iya mbak dini..hehehe ngontes tetep jalan..menyalurkan hobby ngoceh * kata bunda hilsya hehehe…
    salam buat kak dini, mela dan inoy yah mbak🙂

  9. elsa says:

    wuuuah ikutan juga
    aku terpaksa gak ikutan yang ini
    kurang pede memberikan tips soal anak anak dan keluarga

    waduh padahal kan dah dari princess dija kecil tante elsa yang take care yah…saya kira gak harus udah berkeluarga dan punya anak lho mbak bisa nulis ini, yah berbagi pengalaman aja mbak elsa🙂 di tunggu share nya di blog yah🙂

  10. Setuju banget dengan setiap katanya mama kinan🙂

    Anak adalah peniru yang hebat…
    walopun kadang kita suka gak sadar…banyak sekali tingkah laku kita yang ditiru oleh anak…contohnya aja, ngambil barang pake kaki itu…

    mudah2an kita bisa selalu menjadi teladan yang baik bagi anak anak kita ya mama Kinan🙂

    Amien..iya mbak erry…setuju banget dengan filosofis tanah liat yang ditulis mbak erry..aku copas lho buat dibaca Ayah kinan..:) thank for sharing

    • Necky says:

      makanya erry…kudu ati2 didepan kayla sama fathir yah?…:-)

      iya nieh mbak erry, kita emak emak ini harus hati hati…ditiru nanti kita sama mereka plek plek..like mother like children hehehe..

  11. Necky says:

    labeling sangat tidak disarankan, lebih baik kita ganti label tersbut dengan pujian ya mama kinan?….sukses dengan lombanya, keren banget tulisannya…

    menurut saya begitu sih pak, apalagi labeling yang sifatnya negatif seperti untuk kata kata “anak nakal atau anak bandel”…kalo yang positif mungkin masih ok lah…:) sama sama pak..tulisan pak necky juga bagus..saya dah berkunjung tadi🙂

  12. Pingback: Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran | My new world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s