Pendidikan : “Prestasi” Vs “Kejujuran”

Hari Senin. Biasa narsis emaknya kinan lagi kumat …pasang photo anak dulu ah…ini dia penampakan kinan saat jalan jalan ke sekolah SD emaknya

at lapangan belakang SD Mama

@ lapangan belakang SD Mama

SDN SEMBON 1

Kinan jalan jalan di sekolah SD mama dulu..

Mau publish tulisan yang tersimpan sudah dari jaman baholak  di draft  dan takut keburu basi…sisi lain cerita  mudik 2011 kemarin.

Rasanya nggak afdol dan pilih kasih kalo saya hanya menyertakan postingan kinan jalan jalan ke sekolah SDN –nya Ayahnya saja, lho sekolah SDN emaknya mana?? Huahaha…emaknya jelous mau posting juga penampakan SDN dimana berapa belas tahun yang lalu menimba ilmu disitu. Sekolah SD saya dulu kalo musim penghujan parah banget, banjir, kalo banjirnya parah dan sampai masuk kelas, jadi libur sekolahnya dan saya pasti bersorak gembira..horeeeeeeeeee sekolahnya “prei” alias libur..hehehe. Tapi kayaknya kesan itu nggak tertangkap sama sekali sekarang SD saya dulu dah cantik, halamannya dah ditinggikan, dipaving, kelasnya dah dikeramik, meskipun tidak secantik SD Ayahnya kinan, tapi  sudah jauh lah gambarannya dengan jaman saya sekolah dulu, banyak kemajuan dalam bangunan fisiknya. Apakah itu diikuti juga dengan kemajuan kemajuan pola dan metode pengajaran, kurikulum dan sebagainya??!!, halah nggak ngerti juga yah.. semoga saja ada banyak “improvement” disitu…

Tapi ada juga selentingan yang saya dengar dari salah seorang  orangtua murid *kebetulan sodara sepupu saya, yang putra putrinya baru lulus dari SDN dimana saya pernah sekolah tersebut, dan juga kebetulan beliau adalah seorang pengajar senior. Beliau bilang bahwa  “mutu lulusannya nggak kayak jaman dulu soalnya  dah banyak pengajar senior yang dah pada pensiun, kemudian banyak tenaga pengajar baru yang sifatnya masih “GTT” yang masih honorer, ya kalo honorernya dah lulus kuliah dari  Kependidikan atau  sudah S1 atau D3 atau ada akta 4 kalo yang dari S1 non kependidikan itu masih mending, tapi kenyataannya adalah bahwa mereka yang mengajar adalah masih lulus SMA dan baru mulai menempuh pendidikan atau masih sambil kuliah kependidikan tapi sudah jadi guru honorer di SD tersebut, nah gimana kualitasnya, secara mereka untuk urusan metodologi, Psikologi dan ilmu ilmu mengajar lainnya masih baru dipelajari tapi sudah harus pegang kelas dan murid secara sebenarnya..apa yang nggak jadi korban muridnya…” begitu kurang lebih curhatan sodara saya itu,.. *note bukan curhatan saya lho..:D. Kemudian pertanyaan saya “ lho kok bisa jadi guru honorer, kalo belum lulus?”   Jawab sodara saya “ Lho ya bisa tho, wong orangtua atau sodaranya ada ngajar disekolah itu?” Hmm…Apakah ini dibenarkan??

Hmmm…no comment lah saya.. kenapa hal itu terjadi dan dibenarkan, lapangan kerja yang sempit, dan juga profesi sebagai tenaga pengajar yang makin menjanjikan sebagai pegawai negeri terutama sebagai guru atau tenaga  pengajar,membuat mereka tergiur.. *sayapun tergiur juga…tapi nggak  ada daya dan upaya hehehe…..mereka berlomba lomba mendapatkan jatah untuk masuk database dan menunggu  segera diangkat, dengan harapan nanti pas lulus kuliahnya pas diangkat sebagai  guru dan pegawai negeri. Bahkan dari kabar yang saya dengar dari salah satu kawan SMA saya, ada kawan yang dah settled bekerja disebuah kantor swasta malah memilih jadi guru honorer disebuah sekolah dasar hmm ..kalo ini mungkin panggilan hati kali…,Hmm nanti saya salah ngomong dan salah tulis..jawabannya marilah kita cari dan tanyakan pada diri kita sendiri kalo tanya sama rumput yang bergoyang nanti dimarahi sama Ebiet G Ade soalnya dah ada  hak ciptanya … saya tidak mau membuat tulisan yang aneh aneh,  karena kebanyakan  sodara sodara saya juga mengabdi sebagai tenaga pengajar…dan sayapun pernah “mengajar dan mengelola sebuah sekolah  PG/TK Swasta”…Biarlah hati nurani kita yang berbicara..dan itu adalah jalan masing masing manusia…biarlah yang kerja diswasta  bekerja dengan benar, yang jadi pegawai negeri dan pengajar di sekolah negeri bekerja dengan benar sesuai dengan jalur dan garisnya. Peace for All..stop nulis yang beginian..nanti bisa salah ketik dan salah tafsir yang ada dikira tulisan emak emak yang nggak kebagian jatah permen …:D

Diskusi singkat dengan Kakak Ipar tentang “Prestasi” Versus “Kejujuran”

Masih tentang  sekolah dan dunia pendidikan suatu sore saat bercengkerama dengan kakak ipar, ibunya mbak dilla dan mas naufal dirumah Mertua, ceritanya kita terlibat diskusi seru tentang pendidikan. Kebetulan budhe nya kinan yang ini lulusan IPB tapi tidak berniat berkarier, budhe-nya kinan telah cukup bahagia dengan menjadi Ibu rumah tangga dengan mengasuh putra putrinya dirumah, salut pokoknya. Budhe-nya kinan kali ini curhat tentang sekolah jaman sekarang, pelajaran anak anak sekarang yang cenderung instans, metode pengajaran yang berbeda  dengan ketika jaman dulu kita sekolah SD…..standard kelulusan yang menggunakan hasil ujian akhir sehingga membuat sekolah dan para guru berlomba untuk melakukan apa saja agar semua anak didiknya lulus dengan nilai yang memuaskan, sehingga sering kali melupkan nilai nilai moral dan kejujuran. Misalnya membolehkan mencontek atau menginginkan siswanya yang pintar untuk  memberi contoh atau sharing jawabannya dengan murid yang lainnya.  Contoh kasusnya yang dulu merebak di tingkat nasional seorang siswa SDN asal surabaya yang diminta memberitahukan jawaban “contek Massal”. Satu sisi sebagai orang tua kita ingin anak kita berlaku jujur sesuai dengan apa yang kita ajarkan tapi pada sisi yang lain anak kita disekolah diajarkan untuk melakukan “contek menyontek”.

Dari penjelasan kakak ipar saya  ini jadi ngeh saya, Bisa jadi  karena alasan  persaingan antar sekolah dan juga nama baik dan prestise sekolah serta bonus untuk guru hal itu dibenarkan. Kalo sampai drop prestasi siswa guru juga yang kena marah. Beberapa tahun terakhir ini Jawa Timur selalu masuk rata rata DANEM paling tinggi untuk sekolah dasar dan sekolah menengah pertama  dan tingkat SMA. Lebih lanjut budhe nya kinan juga mengatakan keraguannya  untuk pendidikan mas naufal berikutnya kemudian memasukkan “pendidikan pesantren” sebagai alternatif untuk pendidikannya kelak, walaupun begitu masih dalam penggodokan dan pro kontra akan hal ini. Mengingat  budhe nya kinan ragu dengan sekolah umum jaman sekarang, satu sisi pingin mengajarkan kejujuran pada anak bahwa prestasi yang dia dapatkan adalah bener benar murni hasil pemikirannya sendiri tanpa menyontek, *seperti jaman kita sekolah dulu, Danem atau nilai  yang kita dapatkan adalah murni hasil pemikiran dan belajar kita,  tapi satu sisi  juga bimbang dengan keadaan disekolah sendiri yang kadang memang secara tidak sadar membolehkan saling menyontek saat ujian akhir sehingga menghasilkan rata rata hasil Nilai yang memuaskan. Jadi dimana letak kejujuran??!! mungkin suatu saat, pada saat anak anak saya dah sekolah akan menemuai persoalan yang sama dan ini tentunya akan jadi PR buat kita orangtua untuk memilih mana yang terbaik untuk anak sebuah “Kejujuran” atau  “Demi sebuah Nilai” masalahnya biasanya sesuatu yang dimulai dari ketidak jujuran akan menjadi pola untuk masa selanjutnya..

Budhe kinan juga  menambahkan dengan curhatannya “Kayaknya kalo orang tua kita jaman dulu khawatir kalo anaknya prestasinya jelek disekolah, kalo orangtua jaman sekarang malah khawatir kalo anaknya prestasinya bagus disekolah”  maskudnya adalah bingung untuk memberikan pengertian tentang sebuah nilai kejujuran dalam sebuah prestasi yg didapatkan atau harus sharing demi  prestasi sekolah dan tingkat kelulusan…hmm…PR buat kita semua..PR juga buat pak Menteri Pendidikan Indonesia dan para pejabat pejabatnya semoga sistem pendidikan di Indonesia semakin lebih baik…bisa mencontoh negara negara maju yang begitu simple sistem pendidikannya namun bagus dari segi kualiltas  * yang ini pernah melihat ulasannya Metro TV…

Belom lagi masalah dana pendidikan yang semakin meningkat, karena mengikuti inflasi, jadi ingat dengan cerita ayah kinan kapan hari. Kebetulan ayahnya kinan baru bersapa lewat telephon dengan sahabat kuliahnya jaman dahulu di ITS yang kebetulan lagi tugas di BATAM, kawan satu jurusan dan sama sama mahasiswa pendatang dari daerah yang masih lugu dan polos..*soal polos dan lugu ini versi ceritanya ayah kinan….hehehe….kebetulan kawannya ini baru  berkunjung ke Kampusnya lagi untuk mengobati rasa kangen terhadap almamater dan sebagai wujud rasa cinta karena hasil dari menuntut ilmunya telah membawanya bekerja dan dikirim ke luar negeri sebagai enginer sebuah perusahaan MNC. Sang sahabat ayah kinan ini bercerita  bahwa suasana kampus dah banyak berubah  rasanya nggak banyak lagi mahasiswa daerah yang lugu lugu yang suka menunggu jadwal kuliah didepan Masjid besar, namun dah berganti dengan mahasiswa keren keren dan bermobil. Saya pikir baguslah, berarti pada makmur semua masyarakat jaman sekarang menyekolahkan anaknya  dan memberi fasilitas yang keren, namun pada sisi yang lain saya berpikir, karena kata ayah kinan sekarang dana masuk kuliah Negeri seperti di tempat Ayah kinan sekarang dah kisaran puluhan juta rupiah bahkan sampai ratusan juta untuk jurusan tertentu, nah lho…terus bagi anak anak daerah daerah yang pinter dan punya potensi dan prestasi akademik yang bagus tapi nggak punya biaya karena keluarganya bukan orang mampu, bagaimana??!!! Apakah bisa kuliah atau meneruskan ke perguruan tinggi????!!!..saat berpikir seperti itutiba tiba saya sedih..dulu kuliah diuniversitas  Negeri jadi alternatif untuk anak anak yang berprestasi tapi orangtuanya penghasilan pas pasan…tapi sekarang berbeda jauh sekali,dah kayak sekolah swasta….hmm teringat SPP saya per semester jaman itu hanya tiga ratus ribu rupiah..sekarang??  yang saya dengar uang masuknya saja dah puluhan juta bahkan ratusan juta untuk jurusan tertentu…..*ayo bagi adik adik blogger yang masih kuliah..tolong di update ya informasi ini untuk emak kinan…apakah bener memang dah mihil banget biaya kuliah…:)

Kenapa saya jadi kepikiran, bukankah seharusnya pemerintah memberikan banyak fasilitas dan kemudahan dibidang pendidikan agar  merata  untuk semua rakyatnya yang membutuhkan???  Bukankan pemerataan bidang pendidikan dan pendidikan untuk seluruh rakyat diatur dalam UUD..Jadi ingat kemarin sore disela menemani kinan main, melihat sebuah tayangan documenter di Chanel NEwsASIa saat itu ada seorang tokoh wanita angkatan 45 * asli saya telat lihatnya jadi nggak tahu siapa tokoh itu, tapi yang pasti dari surabaya. Dah sepuh alias tua tapi analisanya tajam …dia bilang..dia malu melihat generasi jaman sekarang kalo generasi jaman tahun 45 dulu dalam setiap perjuangan selalu tercetus  semua “untuk rakyat dan bangsa Indonesia”, tapi pada masa saat ini yang ada semua daya upaya dilakukan hanya untuk “sekelompok orang atau golongan tertentu” dan juga ” untuk partai”  bukan untuk “bangsa dan rakyat” yang sesungguhnya….

hmmm…halah mak.mak….kok jadi mbulet dan ngajak mikir gini sih tulisannya….wis wis..stop stop…sebelum kemana mana tulisannya…..

Hanya sebuah renungan di hari senin..sisi lain dari perjalanan mudik 2011 lalu.. *posting nggak jelas dari emak kinan dihari Senin..yang sebenarnya hanya ingin naris pasang photo kinan dan SDNnya emak kinan….hehehe..

Happy “Senin”  kawans semua…Peace for All, Sejahtera, aman dan makmur untuk semuanya

About mama-nya Kinan

Ghina Artya Kinanthi, Anak perempuan pertamaku. Semoga kami bisa menjadi keluarga Yang Sakinah, Mawadah dan Warohmah, bisa membimbing dan m
This entry was posted in Gado-gado and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

33 Responses to Pendidikan : “Prestasi” Vs “Kejujuran”

  1. Bener banget, mbak, makin sedih aja kalo liat kondisi pendidikan di Indonesia sekarang. Sepertinya rumor yang bilang klo biaya masuk perguruan tinggi sampe ratusan juta tuh bener adanya, deh, soalnya ada orang dekat saya yang ngalamin juga. Tapi biasanya sih itu demi bisa masuk, mbak, jadi yah pake jalur-jalur khusus gitu. Kalo kata saya sih sayang yah kalo kita maksa bayar ratusan juta demi anak bisa masuk jurusan impian, padahal itu sebenarnya bukan yang terbaik untuk anak. Kalo buat saya sih mending serahkan semuanya sama Tuhan, kalo Tuhan berkenan, pasti bisa kok lulus ke jurusan idaman tanpa perlu lewat jalur2 khusus yang bikin harus bayar semahal itu. Memang benar makin ke sini biaya pendidikan semakin mahal, tapi ada yang sampe fantastis gitu ya karena orang tuanya juga keukeuh rela bayar berapapun asal anaknya lolos. Itu menurut pengalaman yang saya lihat sendiri, jadi maaf kalo ada yang salah juga, hehehe…

  2. Lyliana Thia says:

    Masalah pendidikan dinegara kita masih berubah2 terus ya mbak… aku berharap semoga lekas settle sehingga kurikulumnya jelas…

    skrg anak SD pelajarannya kayak anak SMP…
    padahal kalau di LN pelajaran nggak njelimet ya mbak,… mudah dan simple… dan meningkat kerumitannya saat penjurusan di SMA… kasian Indonesia, otak anak2 udah diforsir berat…

    gmn nasib anak2 ya mbak… *emak2 yg khawatir*

    oot, mbak Sugi, aku ngakak baca komennya mbak di blognya Vania… si Kinan lucu amat… hahaha… harus korban tepung dll ya mbak… hahaha….

    • hilsya says:

      bener… anak sd sekarang aje gile pelajarannya… tas ransel ampe beraaat banget..
      bingung..kenapa pelajarannya seabreg-abreg..

      moga2 pada bisa ngikutin deh… lancar…

  3. Aku sih prinsipnya memang pengen banget Athia masuk sekolah negeri kaporit. Tapi kalo ternyata pas test, nilainya gak mencukupi ya sudahlah cari sekolah lain yang sesuai dengan kemampuannya. Gak perlu ngoyo gimana caranya bisa masuk sekolah kaporit walopun dgn jalan ‘belakang’.
    Apalagi makin ke sini aku melihat sekolah ngetop tidak berbanding lurus dengan nasib. Hahaha…Ini mah pasrah ya.
    Insya Allah, jalan hidup sudah ada yang ngatur, Mbak. Mana tau diberi jalan beasiswa ke luarnegeri.😀

  4. riliarully says:

    inget ini jd emosi..tenang,,tenang dl..bener banget skr banyak institusi pendidikan yg dibisnisin jd nya ga tau deh prestasinya bener2 apa ngga. apalagi aku tinggal di Tangerang coret yg wilayahnya masih ada di kabupaten..cari sekolah negeri ngga ada yg bagus. mau swasta muahalnya minta ampun. Dikit2 duit n duit bayar ini itu cape deh..
    trus kmrn ada anak temen yg mau masuk kuliah kedokteran bayar 300juta masih belum goal. Wuih mending uang segitu buat yg lain yah hehehe…
    nasihat para orang tua Jawa bilang hati2 dg pekerjaan yg berhubungan dg pendidikan, kesehatan dan kekuasaan..harus bener2 punya jiwa ‘ngabdi’ kl ngga takutnya malah jd tergiur berbuat tidak jujur dan mendzolimi orang lain🙂 kl ga salah sih gt😀

  5. Miss. Indi says:

    menurutku lebih baik jujur daripada mentingin ego. kasihan kan yg jadi “korban”. kalau mentingin ego, mungkin kita kira ga apa, masih SD ini, gampang ngajarnya– padahal kan dampaknya jangka panjang. jujur aja, i’m 20 something, sudah lulus S1, kepengen banget jadi guru TK (TK, lho, TK, bukan SD), tapi kalau diminta ambil pendidikan lg supaya memenuhi syarat ya kenapa nggak, toh aku S1 nya dari HI, kok, bisa politik mungkin iya, tapi ngajar anak2 meski S2 kalau jurusannya lain juga ya mana bisa. apalagi kalau yg mengandalkan koneksi saudara gitu buat jadi guru. hadooooh! #tepok jidat :p

  6. bener Mam, masalah pendidikan di negeri kita memprihatinkan, kayaknya mengenai biaya utk kuliah bisa ratusan juta itu, bener banget
    karena bunda mengalami ketika memasukkan si bungsu kuliah disalah satu perguruan tinggi swasta yg cukup terkenal di daerah grogol jakarta😦
    lagi pula, suka heran juga ya , utk anak2 SD aja kok ya pelajarannya sudah sedemikian beban banget ya………
    padahal diluar negeri itu, anak2 sampai SMP ( contoh Singapura) mereka belajarnya gak seabreg2 kayak murid2 SD disini , kenapa ya?
    salam

  7. LIdya says:

    mudah-mudahan ada rezekinya ya untuk masukin anak sekolah di sekolah yang bagus bun

  8. rusydi says:

    itulah yg isebut sebagai pendidikan karakter. kejujuran juga gak kalah penting di sekolah

  9. untung saya hidup di jaman dulu, yg masih SD pelajarannya ga senjlimet anak sekarang.. heheh,,
    selalu dan selalu tetep aja ada yang disukuri….

    Sekarang kayaknya malah kebanyakan Buku, jadi malah bikin anak2 bingung mau baca buku yg mana. Guru jadi malah kurang maksimal dalam memberi pelajaran (maaf ya bapak2 & ibu guru.. :D)

    Sedangkan mengenai prestasi dan kejujuran, karena skarang orang2 lebih menghargai pada hasil akhirnya. Jadi apapun jalan yg ditempuh, yang penting hasil akhirnya bagus, ya itu yg dinilai oleh kebanyakan orang. Justru proses ataupun jalannya itulah yang kadang luput dari perhatian. Seharusnya sih malah prosesnya yang lebih dihargai daripada hasilnya.

    Harapannya tetap dong semoga pendidikan Indonesia lebih bagus ke depannya

  10. Kontraktor says:

    saya jg harap pendidikan di indonesia….ga hanya cma mahal….tapi prestasinya harus di banyakin…

  11. irfan handi says:

    Kita semua berharap mendapatkan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak.

  12. IbuDini says:

    Mb…aku yang anaknya masih di TK aja udah ngerasa banget kok. Mungkin salah satu ntuntutan kenapa mereka harus menyontek kali ya mb karna secara tidak langsung kita bisa melihat bagaimana si saat2 hari kelulusan.
    Tidak seperti kita dulu ..yg tidak lulus jarang sekali dan kalaupun ada paling1 atau 2..nah kalau sekarang banyak banget dan bikin anak2 jadi stress atau prustasi.

    Kembali pada orang tua, bagaimana kita menjadikan anak kita utk lebih baik…..tapi kembali lagi kepada pendidikan yang makin sulit mb, trus terang saya juga was1 kelak Dini dewasa mb.

  13. susisetya says:

    itulah mbak dilema dunia pendidikan jaman sekarang, saya jadi bingung gimana dengan anak saya yang sebentar lagi bakalan masuk dunia pendidikan….????

    tapi apa beneran mbak, ada yang masih ijazah SMA udah bisa ngajar jadi honorer????

  14. Bang Aswi says:

    Wah, Karangrejo toh, Mbak. Yang penting pendidikannya jangan ‘prei’ ya, Mbak … success for all ^_^

  15. bunga says:

    Pendidikan Indonesia zaman sekarang semakin parah karena pendidikan di Indonesia selalu di nilai dengan materi

  16. ainuq says:

    Duh, tulisan Mba terasa mewakili kegelisahan saya akhir-akhir ini. Miris dengan kenyataan yang ada…semoga kelak anak-anak kita tidak terjebak dalam perjalanan pendidikannya…amin…

    Lalu apakah yang dapat kita sumbangkan untuk pendidikan bangsa kita ini ya Mba sehingga kembali ke martabatnya.

  17. BunDit says:

    Ah…wajah pendidikan di Indonesia emang makin gak jelas. Harusnya makin lama pendidikan makin murah dan malah gratis…lha ini makin mahal, makin bisa dimainin…liuer euy. Hihihi komen saya makin nambah puyeng ya? Ya semoga kita bs membiayai anak kta bersekolah dg cara yang baik dan jujur ya..🙂

  18. nia/mama ina says:

    bener mom, saya suka mikir kira2 pas anak2 kita udah kuliah nanti biayanya jd berapa yach? mampu ngga yach masukin mrk kuliah? ahh mudah2an aja pas anak2 kita besar nanti, pemerintahannya sdh berganti…kembali sprti jaman waktu kita sekolah dulu yachh…buku2 kakak kelas msh bisa turun ke adiknya…biaya sekolah murah….ngga ada yang namanya nyontek….kelulusan ditentukan bukan hanya dr hasil ujian akhir tp akumulatif dr nilai ujian akhir, nilai2 ulangan semester dan nilai ulangan harian……itu baru namanya joss..ketahuan yg pintar sm yg nyontek…baru bangsa indonesia bisa maju…..

  19. Mbakyuuuuu, pa kabs? ekye akhirnya bisa ber-bewe ria lagi neh. Tapi ini juga kaya dikejar2 hantu secara buru2 banget (takut Zafira bangun & nenen).

    Apa kabar si cantik? Sehat kan? Dooohh maap lama ga apdet kabarnya. dikau sendiri sehat kan Jeng??

    Ngomong2 masalah pendidikan jamans ekarang, gw jadi binun. Mo UAN orang rame2 cari bocoran. Padahal jaman gw dulu EBTANAS perasaan ga begituh deh. Belajar, kerjain soal. Kalo gw bisa yah dikosongin. Dan seinget gw semuanya lulus deh. Belom lagi sekarang dari sekolahnya sendiri yang matre. Bentar2 duit, bentar2 duit. Gimana coba kalo ada yang kismin tapi otaknya lebih encer dai santan??

    ya sutra deh Mba, kalo ngomong panjang lebar gw jadi pengen nyubit Menteri Pendidikan. Hihih, SKSD Palapa banget yah gw.

    Ekye caw dulu yah Say. Mmuuuaaaccchhh untuk Kinan dari Zahia & Zafira

  20. Necky says:

    Kasihan dan prihatin buat orang pinter tapi ga punya uang. Saya hanya bingung aja, dulu tanpa 20% anggaran APBN orang2 miskin bisa sekolah nah sekarang….silahkan minggir, biarkan orang2 yg memiliki uang yang masuk kuliah….

  21. Orin says:

    berat nih mba diskusinya he he…. saya nonton aja dulu boleh ya, membaca postingan dan komentar2 disini jadi pembelajaran tersendiri buat saya nih😉

  22. Dear.

    hhmmmmmsssss nostalgilaaa loohhh… and pembelajaran buat ananda Kinan….. kinan like a princess dengan topi pinky nyaaa…… sekolahnya bagus yaaa…

    regards.
    … Ayah Double Zee …

  23. Nchie says:

    Ceritanya napak tilas nih si Mama..
    Tapi emang,aku juga suka gitu,ngajakkin Olive ke sekolah2 ku dari sd-kulliah.

    Ah bicara pendidikan no komen ahh,fusyiing..
    Yang penting mah mengajarkan anak sesuai dengan kemampuanku dan anak bisa mengikuti..
    Kalo mikirin nanti biaya smp,sma ato kuliah,waahh takut sutress Mam..
    Menjalani aja deh dan menikmatinya..
    Tul ga Mam..

  24. IbuDini says:

    Sakit apa Kinan mb.
    Hari Senin kemarin saya juga gak kerja mb, dini sakit badannya panas, dan ternyata amandelnya infeksi..ya karna kecapean di hari sabtu, trus mungkin karna basah juga…udah gitu ikut saya keliling di hari minggu trus malamnya panas.
    Alhamdullilah udah 2 hari ini lumayan mb udah sehat.
    Kinan cepet sembuh ya…., nanti main sama kakak Dini lagi…kata Dini kinan itu kecil ya bu.

  25. tuyi says:

    Sip….fotonya cakep2……

  26. ~Amela~ says:

    SD saya sekarang juga udah bagus, smp sma juga udah tambah cantik,.. bahkan kampus saya pun juga berubah, makin mewah aja penampakannya, katanya(belum sempat cek langsung),
    tapi semoga aja yang berubah bukan cuma fisik bangunannya aja ya., tapi kualitasnya juga makin sip harusnya..

  27. Mommy Favian says:

    SD sekarang dah pake keramik semua
    zaman q pake tegel biasa kalo kebagian piket ngepel gak bisa ngepel gaya inem tapi langsung siram air dan sikat pake sapu, saking dekilnya…

    biaya makin mahalllll
    semoga bisa sekolahin Favian ke sekolah terbaik yang cocok untuk Favian

  28. asyik juga ya posting ttg sekolah sd kita. hmm, jadi inget ceramah ustadzah pas pengajian tadi katanya kita sekarang tuh butuh IQ(kecerdasan otak), EQ (cerdas secara emosi), SQ (cerdas secara spiritual) dan AQ (adversity question/ tangguh ga gampang goyah). jadi salah besar ya mom kalo anak2 kita hanya disuru pinter secara pelajaran nilai2nya bagus ajah, tapi juga harus ada kecerdasan lainnya. tks for sharing mom

  29. vera says:

    halo kinan apa kabar? maaf ya lama gak mampirrr…..

    iya betul, biaya pendidikan makin moahaaalll

  30. I appreciate your wordpress design, wherever would you down load it through?

  31. Pingback: Tentang sebuah PR: Kenangan saat Sekolah Dasar | My new world

  32. adisthi says:

    Salam kenal Mbak:-) iya biaya pendidikan ini salah satu hal yang bener2 bikin aku bertanya-tanya? apa iya kenyataannya semahal itu, ataukah cuma permainan anggaran saja demi mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya? Masak masuk TK, SD aja bisa sampai puluhan jutaa…. It doens’t make any sense at all for me… Disini, sekolah sampai SMA gratis, dah gitu qualitynya juga 11-12..ga sampe beda bagai bumi and langit between private and public school. Pelajarannya juga..halahhh, gampang..jadi anak bener2 menikmati di sekolah, ga seteress..PR juga kayaknya jarang yaaa…cenderung ga ada malah (ini buat SD, SMP and SMA aq ga tau).. Jadi pngen pindah negara, tapi masih dilema berat..##Lho.. bukannya ga cinta tanah air sih, tapi kalau kondisinya kayak gitu, aku parno ngelihat masa depan anak2 kelak, klo sektor pendidikan aja dikomersilkan dan nilai kejujuran ga berarti apa2😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s