Belajar Dirumah ala Emak kinan

 

Finallay break maksi…!!! Lagi lagi curi waktu disela hajatan stock take..walaupun bisa dikatakan  sudah hampir selesai..dan saya tidak perlu  lagi entry data..tapi “daily task” seperti normal biasanya sudah menanti..jangan khawatir ..bertumpuk heueheuheue…dan juga tambah satu assign tugas lagi sekarang  emak kinan.., jadi dua kali kerja untuk urusan release releasan QMS yang sekarang go live di prosess central alias online……semua site  dibawah bendera aerospace tempat emak kinan nyangkul bisa melihat prosedur site Bintan/Chai chee dimana emak kinan nyangkul….……*huh jadi pingin bikin nasi Briyani..khas india yang emak kinan suka itu lho kok?? jelas nggak nyambung.. ……hehehe soale sekarang sering IM-an sama process central ‘s team  si Rathna dari India …he..yang tinggal di Banglore itu… tiap kali kalo ngobrol via IM sama si Rathna itu jadi pingin membuktikan bahwa saya juga bisa bikin nasi briyani…*walah mak nggak usah aja deh…susah ingredient bumbunya di cari…….

Fokus focus…..mau nulis tentang sesuatu…buat pengingat, bahan diskusi….dan juga untuk bahan renungan juga untuk saya sebagai orangtua..…. Berhubung masih anget, baru saja dapat forward-an email dari ayah kinan artikel berita “ Kurikulum Baru, Beban Berat Murid Sekolah”  artikel aslinya bisa dibaca di link ini,(http://www.tempo.co/read/news/2012/10/09/174434555)

Emak kinan ingin copas sedikit dari bagian akhir artikel;

Kurikulum yang begitu berat dan tidak tepat yang dibebankan ke siswa merupakan sebuah kekeliruan. Pendidikan yang terjadi tidak menyentuh pembentukan mental, karakter, dan pengembangan kreativitas siswa. Yang dipacu hanya otak kiri, sementara otak kanan terabaikan. “Kalaupun kemudian hari anak jadi pintar, dia cuma pintar buat dirinya sendiri, sama sekali tidak bermanfaat bahkan merugikan masyarakat,” kata Syailendra.

Di sinilah pentingnya peran orang tua dalam mendidik anak. Orang tua, kata Syailendra, adalah figur terdekat bagi anak yang mestinya menanamkan nilai-nilai kehidupan sedari dini. Selain itu, orang tua perlu bijaksana dalam memberikan pendidikan kepada anak. Jangan paksa anak ikut bermacam-macam kursus yang bukan minatnya.

Peran guru juga tidak kalah penting. Guru bukan hanya mentransfer pengetahuan, tapi juga harus berperan sebagai pendidik. “Guru harus menjadi teladan dan mengerti psikologi perkembangan anak,” ujar Syailendra. (sumber dari sini)

Intinya ringkasan dari  artikel yang saya baca kali ini adalah betapa kurikulum baru saat ini menjadi beban berat murid sekolah. Hmmm dari sd kelas satu sudah dijejali dengan berbagai mata pelajaran yang berat dan melelahkan…dan ini bisa membuat anak stress, begitu ulas salah seorang pakar psikolog yang pernah menangani masalah seperti ini. Hmm asli emak kinan jadi ngeri …selama ini  kinan sudah saya ajarkan mulai angka, alphabet, terus penjumlahan sederhana, saya bikinkan worksheet, berbagai macam  ini itu…intinya untuk melatih dan menstimulus agar kinan senang dan menumbuhkan rasa ingin tahu dan mengembangkan minatnya….alhamdulilah  kinan sudah hapal alphabet dan sedikit mengeja untuk sederhana…ba bi bu be bo…dst…dengan berbagai macam metode dan buku yang pernah saya belikan untuknya saat hunting di gramedia….

hmmm tapi intinya selama ini saya berpedoman selama tidak dengan paksaan dan tidak memaksakan kinan dan kinan senang melakukannya  dengan fun dan gembira apakah masih juga berefek kedepannya…???? Mempunyai dampak buruk?? Membuatnya bosan..kelak?? Bapak saya atau Atungnya kinan setidaknya sedikit tidak setuju dengan pemikiran saya…yang sering mengajarinya ini itu membaca dan mengerjakan sesuatu..biarkan dia bermain…bapak bilang…”Biarkan dia bermain…!” Masa kecil itu adalah masa bermain……begitu katanya yang dia baca dari sebuah buku  dan juga dapat dari Qoute menteri pendidikan jaman dahulu katanya bapak Fuad Hasan yang pernah bapak saya baca dulu…

hmmm jadi maju mundur…gimana yah…colek mbak lidya mama pascal dan dek Alvin, mama raja, bunda dita, mama ke2nai, mbak ruly,  mbak nanik bunda satria, dan ibu ibu lainya tentang kegundahan hati saya ini….eh boleh juga bapak bapak…om applausr….advicenya dong ibu ibu bapak bapak..….apakah saya termasuk emak lebay dan memaksakan?? Heueheuehue……

Aslinya…kinan malah kecanduan dan nagih  kesaya…”Mama, hari ini bawakan adek kertas untuk belajar yah!”…selalu saja malah minta oleh olehnya worksheet yang saya buatkan barang selembar atau dua lembar entah itu tentang  angka, alphabet, matching game, dan lain lain…..hmm gimana gimana..sharing dong kawan kawan….Baik dan buruknya??Saya juga masih berimbang sih…banyak mainnya yang pasti hari harinya kinan……

Dan disela break istirahat tadi sempat googling  dan menemukan sebuah portal baru lagi…dimana kita bisa berkreasi membuat worksheet seperti yang kita inginkan …..ini dia alamatnya  http://www.toolsforeducators.com/  membuat saya bersemangat untuk saya membuat worksheet untuk kinan….,sempat sudah mencoba sekilas tadi saya…dan hasilnya seperti ini..

worksheet

Biasanya saat mendampingi kinan untuk mengerjakan worksheet yang saya buatkan biasanya saya pasti sambil bercanda atau bercerita….kalopun dia pada akhirnya nggak mau mengerjakan atau maunya main main atau memintanya saya aja yang mengerjakan saya tidak akan memaksakannya…yah santai…..santai saja….mengisi hari dan waktu bermain kinan dengan banyak hal..satu yang pasti alhamduliah televisi dan disney junior dah lewat…sudah bosen kinannya..dan tidak lagi maniak…hanya pada kartun kartun tertentu saja…jadi masalah tv dan kartun kita sudah bisa mulai mengontrol….alhamdulilah…

Hmmm…..mohon sharingnya yah kawan..home scholling atau belajar dirumah ala anak anak preschool seharusnya??…..atau atau…….pasti berguna nieh buat saya…

Thanks  in advance ….. untuk sharingnya kawans…

Happy Tuesday..

 

 

 

 

 

About mama-nya Kinan

Ghina Artya Kinanthi, Anak perempuan pertamaku. Semoga kami bisa menjadi keluarga Yang Sakinah, Mawadah dan Warohmah, bisa membimbing dan m
This entry was posted in Gado-gado and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

25 Responses to Belajar Dirumah ala Emak kinan

  1. Lidya says:

    kalau minta sendiri sih gak apa2 kali ya bun, anaknya juga enjoy🙂 Alvin juga suka tuh nulis-nulis walaupun belum jelas

  2. naniknara says:

    hehehehe kegundahan yang sama.
    saya dan suami sudah merencanakan untuk homeschooling buat anak-anak. Tapi masih kebingungan bagaimana ngatur waktunya karena saya juga harus bekerja dari pagi-sore. Nggak mungkin kan diserahkan semua sama si mbak di rumah. Lagian minat babang dan dd dah kelihatan berbeda.
    Si babang dah 3 tahun, dan karena badannya bongsor sering ditanya tetangga/kenalan di angkot, sudah sekolah belum? si babang sendiri yang jawab “belum” lalu ditambahi mamanya “babang belajar di rumah aja”🙂
    mau HS atau sekolah regular sama-sama ada konsekuensinya mbak. Dan pastinya sama-sama butuh peran kita sebagai ortu untuk terus memantau perkembangannya. Masalah yang sering terjadi kala anak sekolah reguler adalah, ortu terlalu percaya dan menyerahkan sepenuhnya si anak pada pihak sekolah. Repotnya lagi kalau guru di sekolahnya hobby kasih PR, maka akhirnya ortunya yang sibuk ngerjain PR. Saya amati teman2 di kantor saya begitu, siang2 di telpon istrinya suruh browsing tentang ini itu karena anaknya dapat PR.🙂

    Masalah worksheet, menurut saya, klo anaknya suka sih tidak masalah. Tapi karena kinan sudah sekolah, ada baiknya dibicarakan juga dengan gurunya. Jangan sampai, suatu saat disekolah dia malas ngikuti pelajaran karena sudah pernah mendapatkan di rumah. Takutnya, dia sudah merasa tahu atau lebih parah lagi dah bosan dengan macam2 worksheet, sementara di sekolah baru akan diajarkan.

  3. applausr says:

    betul sekali yang penting anaknya bahagia dan senang ya lanjutkan saja.. karena itu intinya belajar… suka rela.. biar masuk dan mengerti benar.

  4. hmm jadi selama tidak dipaksakan dan dia enjoy yah ….sip dah..

  5. Elsa says:

    aku gak bisa memberi saran apa apa, Mama Kinan kan jauh lebih berpengalaman dari aku
    tapi coba baca buku yang super keren setengah mati, trilogi dari Munif chatib
    judulnya :

    1. Sekolahnya Manusia
    2. Gurunya Manusia
    3. Orangtuanya Manusia

    aku sih baru selesai baca yang ketiga aja, Orangtuanya Manusia, yang satu dan dua belom.
    tapi dari satu buku aja aku bisa menyimpulkan… sepertinya SEMUA ORANG TUA dan GURU harus membaca trilogi itu.

    bukan iklan Mbak.. cuman…

    wes, pokoke baca deh…
    hehhehee

    UAPIK tenan!!!

  6. alamendah says:

    Bukan hanya orang tua, guru pun sering kali merasakan hal yang sama. Dan akhirnya mereka pun tak berdaya berhadapan dengan tuntutan kurikulum

    • mama-nya Kinan says:

      begitu yah pak…bisa ikut merasakan dilema dan beban berat dari kurikulum ….hmmm bapak malah dah tau persis pelaksanaannya dihadapan murid yah pak…hmm tetap semangat …semoga kelak lebih baik dan ditemukan format belajar disekolah yang baik bagi perkembangan anak anak generasi bangsa kita..

  7. bunda kanaya says:

    sekedar berbagi nih mbak…..aku pernah dapet broadcast di bbm tentang tidak dianjurkannya anak di bawah 5 tahun diajarkan calistung, nah saat aku forward ke teman dia protes, kalau memang seperti itu anjuranya, kenapa saat masuk SD harus ada tes calistung dan yg tidak lolos tes tidak bisa diterima?… jleb, aku ga bisa jawab lha wong dapet BC dari temen juga. Akhirnya aku tanya ke beberapa teman yg anak2nya udah sekolah rata2 jawabannya memang benar ketika masuk SD rata2 ada test calistung. Nah tambah bingung kan orang tuanya…. jujur saja aku pun bingung mbak dengan anjuran itu karena ga singkron dengan peraturan departemen pendidikan. Aku setuju dengan ibu-ibu yang lain, yang penting kita tidak memaksakan si anak untuk belajar yang berat-berat, toh masih masa2 bermain. Kalaupun ingin belajar, yaaaa bermain sambil belajar bukan sebaliknya . Waduh panjang bener yaa….. next kalao udah dapat kesimpulannya jangan lupa berbagi lagi yaa….

    • mama-nya Kinan says:

      sip bunda naya..
      nah itu dia bunda naya..persis sama kayak uraian dirimu..dilema…nggak diajarkan calistung tapi entar susah kalo cari sekolah….karena biasanya syaratnya salah satunya di tes..calistung..hmmm itu juga dilema saya pas jadi pengajar dulu….hmm jadinya intinya sekarang aku ke kinan yah masih yang penting anaknya nyaman….kalo nggak stop dulu

      • naniknara says:

        Dalam PP no 17 tahun 2010 pasal 69 ayat 5 disebutkan “Penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk tes lain.”
        Jadi sebenarnya kita bisa nuntut kok klo ada sekolah yang menyelenggarakan tes calistung untuk seleksi calon siswanya. Tapi berapa banyak sih ortu yang mau repot baca UU atau PP? Berapa banyak yang mau repot nuntut?

      • mama-nya Kinan says:

        iya juga sih..hmm alasan mereka lagi pasti akan gini..sebagai saringan awal karana daya tampung kelasnya….hmmm tapi misalnya kita mau nuntut..kadang emak emak lain tidak sepaham dan ok ok saja dengan hal itu…hmm susah juga yah…hmm…tapi thanks banget mbak jadi tahu ternyata ada PP nya dan kita bisa jadikan itu acuan…

  8. endah says:

    mama kinan, alfatih 30 bulan dan dia suka minta gambarin, makanya aku juga seneng bikinin dia worksheet sendiri yang aku contek dari link yang mama kasih. hhiihhi… walaupun belum terlalu antusias, tapi udah mulai suka yang tracing the lines..hihih lumayan

    • dibikinin yang seru seru banyak gambarnya aja bunda alfatih…aku kadang kalo break dikantor suka eksperimen bikin worksheet..hehehe maklum kerjaan jaman ngajar dulu suka bikini LKS…atau dot to dot untuk mengenalkan angka…..yah murah meriah bikin sendiri..anak happy kita juga happy…ilmu dapat bermain juga dapat….huruf hijaiyah juga masih jadi PR nieh buat saya…udah dibeliin cd dv huruf hijaiyah itu disekolah juga kayaknya diajarkan kinan dah mulai menyebut alif..ba..dst..walaupun masih belom urut..:) semangat yah mbak….mengisi hari hari kita dengan anak dengan banyak kegiatan bermain dan insyallah bermanfaat….yang penting anaknya seneng pokoknya…

  9. riliarully says:

    fiuh..tarik nafas dl sblm ngomongin tentang skolah anak2. Aku n suami jg lg diskusiin ini mam. Bagi ortu yg smuanya bekerja dan scr kuantitas ngga bisa byk dampingin anak belajar cenderung berharap lebih dari “bantuan pihak lain” dalam hal pendidikan anak2. Semestinya anak2 kan tetap bisa belajar sambil bermain dan bersosialisasi dg lingkungan dan alam sesuai dengan umurnya dan dalam porsi waktu yang tepat jg. Belajar disini jg mencakup kebiasaan sehari-hari dan beribadah. Nah masalahnya kurikulum yang terlalu berat itu menuntut banyak hal di luar kemampuan anak yg seharusnya sesuai dg umur. Skedar sharing: Nisha masuk d skolah yg tidak menekankan calistung dan tidak ada PR tp jam skolahnya lama sedangkan Aira masuk di skolah yg ada calistung tp jam blajarnya max 2 jam per hari dan ada PR. Tp ternyata banyak ortu d skolah Nisha yg komplain anaknya blom lancar calistung sedangkan SD nya nanti ada tes calistung akhirnya dimasukkan jg tuh di kurikulum skolahnya. Trus untuk jam blajar yg lama meski sambil bermain ya, akhir2 ini Nisha sering marah2 dan ngeluh capek bahkan kadang ngga mau ke sekolah dg alasan capek. Nah kl Aira ngeluhnya antara lain : mama aku ngga bisa pelajaran itu jd aku ngga mau ikut, ma sekolahku mainannya dikit. Tapi saat mereka ngga sekolah/dirumah jg ga betah lama, mau sekolah lg besoknya.
    Jd menurutku belajar d rumah untuk anak2 preschool jika guru (bisa ortu/siapa saja) dan materi/tujuannya/program jelas dan konsisten sih ngga masalah selama anak masih tetap bisa belajar, bermain dan bersosialisasi dg fun. Baik di rumah/ di sekolah tetap ada plus minusnya. Masalah sekolah memang kompleks.😦 Wah udah kepanjangan nih kpn2 sambung lg ya mam hehehe…

    • mama-nya Kinan says:

      maturnuwun banget mbak….ini jadi gambaran dan bahan renungan buat saya..ulusannya detail dan ada contoh kak aira dan kak nisha yang memang dah dicoba pada metoda berbeda…dan ternyata kurang lebih reaksinya seperti itu…..terimakasih banyak mbak..kapan kapan kita sharing sharing dan chit chat lagi…

  10. Menurut aku, selama anaknya yang minta, ya gak apalah diteruskan, asal kitanya juga bikin suasananya seperti bermain bukan yang belajar serius gitu… Raja udah mulai belajar yang kayak gitu2 sejak belom dua tahun dan sampe sekarang dia gak bosen, karena memang ya suasananya seperti bermain aja. Kalo dia lagi pengen asal-asalan ya udah diikutin aja, karena itu artinya otaknya lagi pengen main yang lain. Selama gak dipaksain sih anak bakal enjoy lah….

    Buat aku juga, pendidikan anak gak akan kuserahkan sepenuhnya di sekolah. Di rumah pun harus banyak usaha yang aku buat supaya anak bisa belajar lebih, tapi itu dia balik-balik lagi jangan sampe maksain anak….

    Moga Kinan selalu enjoy belajar yah🙂

    • mama-nya Kinan says:

      sip, thank u mama raja….dirimu jeng yang memacu aku untuk semangat bikin worksheet dulu sih awal awal sebelum usia dua tahun kinan paling aku bikinkan flashcard aja..animal,fruit, vegetable dll…semakin kesini semakin bervariasi dan akunya malah nyandu juga nyariin dan membuatkan worksheet…*ingat jaman ngajar dulu suka bikin LKS untuk anak anakku….
      bener banget jeng soal tidak sepenuhnya diserahkan ke sekolah, peran serta ortu penting banget…sip sip..nambah lagi ilmu neh…TFS jeng..

  11. BunDit says:

    kalau saya sih selalu berpegangan, “gak memaksakan hal apapun pada anak”. Yang penting sih prosesnya anak enjoy🙂

  12. siap2 tarik napas ya.. Karena sy mau jawab colekannya dg panjang.. Hehee..

    Dilema beban pelajaran yg berat juga sempet sy rasain, makanya sy sempet terpikir HS. Tapi karena bbrp alasan pribadi sy memilih utk tidak HS dulu..

    Cara sy mengakali, beban sekolah yg berat. Yang pertama pasti cari sekolah yg ramah sm anak.. Dlm artian, kl tetep harus belajar calistung ajari mereka dg cara bermain.. Karena dunia anak adlh DUNIA BERMAIN.. Buat sy itu penting bgt mbak.. Jd guru2 yg harus masuk ke dunianya mereka🙂

    Alhamdulillah sy udah nemuin itu wkt anak2 sy PG & TK. Tp tetep aja ada kasus Nai itu jenuh sekolah ketika dia masuk TK A. Gak mau pake seragam sama sekali, kalo di paksa dia milih gak masuk.. Pdhl sklhnya mnrt ramah sm anak2.. Setelah sy konsultasi mnrt gurunya itu wajar karena Nai kan sekolah dr PG (umur 2 tahun). Biasanya anak2 yg sekolah sedini mungkin akan mengalami FASE JENUH SEKOLAH.. Jd solusinya, di biarin aja Nai maunya apa.. Kalo gak mau pake seragam ya gak apa2.. Dan pelan2 rasa jenuhnya hilang kok

    Komunikasi sm sekolah itu penting. Sy bisa setiap hari ngobrol sama guru2nya.. Karena buat sy memahami karakter anak itu kan susah2 gampang. Apalagi utk anak usia PG/TK. Sy berharap kalo sering ngobrol bisa membantu guru2nya utk cepat memahami karakter anak2 sy..

    Sy juga sering kok bikin worksheet seperti itu.. Anak2 sy seneng.. Gak apa2 selama kita gak memaksa & anak kita juga seneng.. Bikin seperti bermain aja mbak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s