Ramadhan 1434 H : Memberikan Yang Terbaik Yang Kita Punya

hadiahAlhamdullillah, tak terasa sudah masuk pertengahan bulan ramadhan, semoga tersisa setengah dari bulan ramadhan ini bisa kita manfaatkan dengan baik untuk memperbanyak ibadah. *Aamiin insyallah….

Terinspirasi dari tulisan mbak elsa yellow life yang ada disini tentang uang jelek yang pernah diterimanya dari pelanggan toko-nya dan juga uang kembalian yang pernah diterima dari sebuah toko. Saya juga pernah mendapatkan uang jelek sebagai kembalian. Malah pernah uang sepuluh ribuan karena saya nggak teliti ternyata tersobek dan hilang seperempat bagian.  Yo terang aja nggak mau ada yang mau menerima tersebut kalo saya belanjakan. Dan mau mengembalikan kemana saya sudah lupa karena itu dari pasar otomatis saat kepasar itu saya  tidak hanya mengunjungi satu pedagan saja. Asli saya kecewa kok ada  pedagang yang tega melakukannya akhirnya di ikhlaskan saja.

Mengambil hikmah dari pengalaman  mbak elsa dan juga pengalaman saya,kemudian teringat dengan etika berbisnis dan juga adab rasullulah  atau Nabi Muhammad SAW dalam bersedekah atau memberikan hadiah. Nabi jika mau memberikan sesuatu kepada orang lain, pasti dari jenis barang atau segala sesuatu yang terbaik.

Subhallah, ketika membaca tentang tata cara Nabi Muhammad  dalam berdagang sungguh mengesankan seperti rangkuman yang saya baca dari sini.

  • Jujur
    Saat berdagang Nabi Muhammad SAW muda dikenal dengan julukan Al Amin (yang terpercaya). Sikap ini tercermin saat dia berhubungan dengan customer maupun pemasoknya.
  • Mencintai Customer
    Dalam berdagang Rasulullah sangat mencintai customer seperti dia mencintai dirinya sendiri. Itu sebabnya dia melayani pelanggan dengan sepenuh hati. Bahkan, dia tak rela pelanggan tertipu saat membeli.
    Sikap ini mengingatkan pada hadits yang beliau sampaikan, “Belum beriman seseorang sehingga dia mencintai saudaramu seperti mencintai dirimu sendiri.”
  • Penuhi Janji
    Nabi sejak dulu selalu berusaha memenuhi janji-janjinya.  Firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman penuhi janjimu.” (QS Al Maidah 3).
  • Segmentasi ala Nabi
    Nabi pernah marah saat melihat pedagang menyembunyikan jagung basah di sela-sela jagung kering. Hal itu berbeda dengan Nabi, saat menjual barang dia selalu menunjukkan bahwa barang ini bagus karena ini, dan barang ini kurang bagus, tapi harganya murah.

Kecenderungannya manusia, *termasuk saya yah….kadang ketika ingin memberikan sesuatu kepada orang lain kita cenderung ingin memberikan barang yang tidak kita sukai atau istilahnya sortir setelah yang terbaik menjadi pilihan kita. Saya jadi ingat dengan peristiwa masa kecil saya, ketika saya dikunjungi sodara dari surabaya ketika kecil sodara saya dari surabaya ini begitu ingin memiliki boneka kecil buatan saya sendiri yang amat saya sukai. Bapak dan ibu saya membujuk saya dengan sangat dan dengan rayuan agar saya mau memberikan kepada sodara saya karena sangat mengingikannya. Saya menangis saya tidak ingin memberikannya, tapi akhirnya dengan terpaksa saya kasihkan karena hanya itu yang dimaui sodara saya yang memang usianya jauh lebih muda dari saya saat itu. Berhari hari saya sedih dan sering nangis mengingat boneka kecil buatan sendiri saya waktu itu. *Emak kinan berarti dari kecil emang lebay …dan selalu susah menerima perubahan…:)

Lalu apa hubunganya dengan cerita masa kecil saya dengan tema tulisan ini, seandainya saya kecil dulu telah mengerti arti memberi sesuatu kepada orang  lain sesuai dengan yang telah diajarkan Nabi, tentu tidak akan terlalu bersedih hati tentang harus merelakan boneka kecil kesayangan saya. Karena memang  dalam ajaran Nabi hendaknya kita  ketika berniat memberikan sesuatu kepada orang lain dipilihkan dari pilihan yang terbaik bukan yang terjelek atau “reject” atau “sorted” dari sesuatu yang tidak kita pakai atau tidak kita sukai lagi.

Pemberian harus dipilihkan yang terbaik. Memberi kepada seseorang bukan dipilihan dari barang-barang sisa. Demikian pula untuk zakat, infaq dan shadaqah. Atau oleh karena telah bersisa, maka sisa-sisa itu diberikan pada orang lain. Qobil  putra nabi Adam, qurbannya ditolak, oleh karena apa yang dikorbankan bukan barang yang terbaik. Sebaliknya Habil, qorbannya diterima, oleh karena diniat secara ikhlas dan dipilihkan hartanya yang terbaik.
(Sumber dari sini)

Jangan menyebut-nyebut kembali barang yang telah kau hadiahkan
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kau menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)” -Al Baqarah 2:264

(sumber dari sini)

Lalu ada juga kisah sahabat yang saya dapat dari sini;

Kisah Sahabat :

Sahabat menjamu Tamu Nabi SAW padahal dirumahnya hanya ada makanan tinggal buat anak-anaknya. Lalu Sahabat memerintahkan isterinya untuk menidurkan anaknya dan menyediakan makanan untuk tamu Nabi SAW. Lalu dia perintah isterinya untuk mematikan lilin dan dia berpura-pura membetulkan lilin. Sementara dia pura-pura mengunyah makanan sehingga dikira tamunya ia ikut makan. Asbab perbuatan sahabat ini turun ayat dari Allah untuk mengenang perbuatan Sahabat yang Iqrom kepada tamu Nabi SAW. Perbauatan Sahabat ini Allah abadikan dalam Qur’an untuk diambil pelajaran dan di tauladani sampai hari kiamat. Sehingga ke esokan harinya Nabi SAW memanggil sahabat tersebut karena Allah ridho pada pelayanannya kepada tamu.

Membaca berbagai kisah tentang keteladanan dan juga keikhlasan  seperti diatas membuat saya merenung. Bisakah saya seperti itu? Saya hanya sebagai manusia biasa, saya yakin hal ini sangat sulit alias tidak mudah. Butuh ketetapan hati untuk mengalahkan egoisme dan juga mengalahkan godaan setan. Manusiawi bila kita juga pingin yang terbaik dari pilihan pilihan yang ada. Belajar untuk meneladani Sikap dan perilaku Nabi Besar Muhammad SAW butuh ketetapan dan keteguhan  hati. Bismillah…semoga kita semua selalu belajar  menjadi manusia yang selalu lebih baik lagi, naik tingkat lagi dalam banyak hal termasuk keimanan.

About mama-nya Kinan

Ghina Artya Kinanthi, Anak perempuan pertamaku. Semoga kami bisa menjadi keluarga Yang Sakinah, Mawadah dan Warohmah, bisa membimbing dan m
This entry was posted in Religi and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Ramadhan 1434 H : Memberikan Yang Terbaik Yang Kita Punya

  1. hana says:

    Emakkkkkk hehe

    Tulisaan mu selalu menginspirasi. Kapan aku bertemu kembaranku ini ya?😀
    Btw mak FB mu apa sih , ingin rasanya bersua dan bertanya pada ayah bundaku apa mereka menelantarkan anaknya yang lain? hihihihi

    jadi ngaco ya😀 maaf

  2. nyonyasepatu says:

    Ughhhh malu huhu. Ini kalo ngasih pasti yg bekas2 atau udh ga, suka lg huhuhu

    • hmmmm …iya kadang kita terlupa…maksudknya sih baik daripada tidak terpakai…tapi selama yang diberi senang dan bener bener tulus ikhlas menerimanya..dan kita iklhas bekas ataupun baru aku kira masih ok mbak..yang penting bermanfaat…mungkin gitu sih..memberi nggak harus selalu baru tapi insyallah masih baik dan berguna buat yang menerimanya

  3. Desi says:

    ah iya bener banget..ibaratnya kalo kita mau dapet yang terbaik..ya musti ngasih yang terbaik juga ke orang lain ya..

  4. hilsya says:

    iya ya..kebanyakan kita ngasih suka yg udah ga disuka…

  5. mak….

    kalo dapet uang jelek gak usah dikembalikan, nanti malah semakin beredar kemana2
    di tuker ke bank aza, walo ilang seperempat karna intinya minimal sepertiga uang dan harus masih nyangkut angka nominal uangnya itu bisa ditukar
    jadi kita bisa membantu peredaran uang lusuh kan hehehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s