Renungan Jum’at; Tentang Tugas dan Tanggung Jawab Suami Isteri Dalam Rumah Tangga

Lamaran

Ingin menulis tentang sesuatu yang akhir akhir ini jadi topik bahasan dirumah kami. Sebuah permasalahan rumah tangga yang sebenarnya terjadi dan dialami tetangga kami. *maaf bukan bermaksud ghibah atau ngerumpiin dan mengumbar aib orang bukan, saya ingin  mencoba menjadikannya sebagai sebuah pelajaran kehidupan yang mungkin dari situ kita bisa belajar. Kemarin pagi Utinya kinan tiba tiba drop sakit seperti masuk angin tiba tiba, mungkin maag nya kambuh pikir saya. Pas saya tanya bapak saya katanya ibu sedang  mikir, lalu saya tanya “mikir” apa? , kata bapak saya  mikir tetangga yang akan pulang kampung karena ditinggal suaminya menikah lagi. Kemarin sore memang ibu cerita ke saya sambil sedih Kasihan si mbak tetangga dengan dua anak itu, kapan hari emang suaminya terlihat pulang dari bekerja di kapal pesiar, lalu sesudah mudik ke kampung halaman suaminya dan balik lagi ke sini setelah itu  balik lagi berlayar. Beberapa hari kemudian suaminya telepon memberitahu  kalo akan menikah lagi. Setelah itu sang suami tidak bisa dihubungi lagi sampai kepulangannya kemarin. Ibu ini kebetulan kemarin dipamitin dan diajak curhat sama mbak tetangga ini. Makanya mikir dan bilang ke saya “Kasihan anak anaknya masih kecil”.

Dalam hati saya juga kaget, merasa iba, bisa mengerti bagaimana perasaan si mbak ini, bayangkan ibu rumah tangga biasa dengan 2 orang anak yang besar seumuran kinan, sedangkan adiknya belom ada 2 tahun, makanya memutuskan untuk pulang kampung  kembali ke keluarganya . Saya hanya bisa mendo’akan semoga mbak tetangga ini diberikan kekuatan dan ketabahan serta kesabaran menghadapi cobaan hidup dan rumah tangganya. Semoga diberikan jalan yang terbaik untuk mbak tetangga dan anak anaknya. Duh Kasihan kalo melihat dua anak kecil mereka. Ya Allah semoga diberikan jalan yang terbaik dan jadikan ini sebagai sebuah pelajarah  hidup yang berharga bagi siapa saja yang mengetahuinya.

Hmm inilah kehidupan, kita tidak tahu datangnya cobaan  dari Tuhan bagaimana  dan apa bentuknya.  Masing masing dari kita umatnya ini diuji dengan banyak hal berbeda. Bisa dengan harta, tahta dan wanita/lelaki, anak anak, dan lain sebagainya.  Begitu juga ujian dalam kehidupan berumah tangga kita dan pasangan mungkin tidak selalunya mulus…pasti ada rintangan, riak gelombang yang menghadang didepan kita.  Komitmen sebuah jalinan suci dalam sebuah pernikahan adalah sebuah perjalanan Ibadah, yang menurut saya tidak bisa dianggap enteng dan dianggap main-main. Pada satu titik dimana kita merasa yakin dengan calon pendamping kita dan  bisa berkata “iya” dan juga setuju hidup bersama dalam mahligai pernikahan butuh sebuah persiapan mental.   Setidaknya itu menurut saya dan terjadi pada saya sendiri, kalo boleh saya jujur saya termasuk orang yang susah  untuk melakukannya saat itu, sampai satu titik saya bertemu dengan Pak Ne yang akhirnya menjadi Imam bagi saya, kami bertemu karena dikenalkan kawan. Pada saat itu  jujur saya  tidak langsung ada yang namanya “CINTA” dan saya yang memang sudah bukan muda lagi tidak mau yang namanya “pacaran dan cinta-cintaan” ala remaja. Melalui proses yang lama  dan lewat menghindar segala macam, hehehe pada akhirnya Pak Ne bisa meluluhkan hati saya, dan saya hanya bilang kalo memang serius, silahkan ngomong dengan bapak saya bapak saya Ok saya juga akan manut. Wis gitu aja, Eaaa pak ne rupanya berani juga berbicara dengan bapak saya dan mengenalkan diri serta melamar saya, baru setelah Ok keluarga besar Pak Ne datang kerumah untuk melamar pada waktu yang ditentukan pas saya dan Pak Ne bisa cuti dan pulang bareng ke kampung halaman.

Tidak terlalu lama kami saling mengenal dan menjalani LDR yang jarang bisa bertemu bisa dengan hitungan jari, tentunya  setelah menikah membuat kami berdua harus ekstra keras untuk  saling mengenal dan memahami sifat dan karakter masing masing yang baru terlihatnya ketika hidup bersama. Awal awal pernikahan jujur saya mau bilang tidak mudah bagi saya dan juga Pak Ne, tapi niat suci sudah diucapkan dan pernikahan adalah sebuah ladang Ibadah. Lebih baik bersikap terbuka dari awal tentang segala sesuatu  daripada kebohongan yang pada akhirnya melukai pasangan. Ibarat pepatah jawa “Garwo” yang dijabarkan sebagai Pasangan yang merupakan kiasan dari “Sigaring nyowo” adalah sebagain dari kehidupan atau nyawa kita. Saling melengkapi, saling menyayangi, saling mengingatkan, saling berbagi, tempat berkeluh kesah, tempat mengadu, tempat yang dimana ketika kita bisa merasakan kenyamanan, jangan sampai naudzubillah ketika kita melihat suami atau melihat istri yang ada hanyalah “kemarahan” dan “kebencian” lalu apa hakikat hidup bersama??”

Namun tak jarang namanya manusia pada satu saat ada aja yang akhirnya bisa menimbulkan dan memicu sebuah ketidak sukaan atau pertengkaran. Demikian saya dan Pak Ne…kami kadang kadang sama sama keras..jadi lebih baik “diam” dulu..daripada akhirnya malah memburuk..saling introspeksi, saya jujur tidak malu dan tidak gengsi untuk meminta maaf lebih dulu begitupun Pak Ne, itu yang saya tekankan ketika kita sedang mungkin tidak enak hati satu sama lain. Karena saya tahu kalo dibiarkan berlarut larut dan ego yang berbicara,  bisa terbawa bujuk rayu setan yang malah takutnya memperburuk keadaan. Kadang saya tidak sungkan SMS duluan, atau Email menjelaskan atau menceritakan detail keinginan saya ketika mungkin kalo dengan bebicara langsung masih belom bisa, untuk mereview akar permasalahannya agar tidak berulang lagi dan demi kepentingan bersama dan cita cita bersama.    Baru setelah bertemu pada akhirnya Alhamdullilah sudah bisa menyelesaikan masalah dengan baik tidak ada ganjalan dan itu bisa jadi pelajaran buat kita selanjutnya supaya tidak mengulang kesalahan yang sama kembali.

Sadar akan Tanggung Jawab, hak dan kewajiban serta Konsekuensi dari sebuah Pernikahan.

Kenapa butuh persiapan mental untuk menikah? Karena  menurut saya menikah bukan sebuah permainan atau “guyonan” membentuk sebuah rumah tangga ada  tanggung jawab,  hak dan kewajiban dan konsekuensi yang ada didalamnya yang berlaku seumur hidup. Apalagi kalo sudah mempunya anak sebagai orangtua konsekuensinya lebih berat lagi. Jadi alangkah baiknya jika  dalam mempersiapkan sebuah pernikahan kita bener bener mengerti dan menyadari kelak posisi kita   dengan kewajiban kewajiban dan hak yang melekat didalamnya.

Di arsip email yang lama, saya menemukan banyak catatan hasil dari browsing alias googling kayaknya bagus juga buat di share, terutama untuk sodara, kawan atau adik adik saya yang mungkin ingin melaksanakan janji suci pernihakan.

 Dari link  yang sayangnya pas saya coba buka tadi ternyata sudah tidak bisa dibuka, saya menemukan beberapa catatan seperti dibawah ini;

Seorang suami dituntut untuk dapat bersikap lembut terhadap istrinya. Karena, sebagaimana telah dijelaskan Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassalam, istri (wanita) diibaratkan seperti tulang rusuk. Jika diluruskan dengan paksa, maka tulang itu akan patah. Dan sebaliknya, jika dibiarkan akan tetap bengkok.

Suami adalah nakhoda dalam bahtera rumah tangga, demikian syariat telah menetapkan.

Dengan kesempurnaan hikmah-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengangkat suami sebagai qawwam (pemimpin).

“Kaum pria adalah qawwam bagi kaum wanita….” (An-Nisa: 34)  

Suamilah yang kelak akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang keluarganya, sebagaimana diberitakan oleh Rasul yang mulia shalallahu alaihi wassalam :

“Laki-laki (suami) adalah pemimpin bagi keluarganya dan kelak ia akan ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang mereka.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829) ( Sumber :  Dalam Labuhan Lembutnya Kasihmu (ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah), dalam (Mengayuh Biduk edisi 7, Majalah AsySyariah)

Lalu dari sumber link disini, ada juga disebutkan  tentang  Hak dan Kewajiban Suami Isteri dalam Islam yang kurang lebihnya seperti dibawah ini, untuk lebih lengkapnya bisa berkunjung langsung ke linknya. Ijin copas disini..buat reminder buat saya dan Pak Ne juga untuk selalu bisa mewujudkan keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah.

Hak dan Kewajiban Suami Isteri dalam Islam

Sebagai bahan referensi dan renungan bahkan tindakan, berikut, garis besar hak dan kewajiban suami isteri dalam Islam yang di nukil dari buku “Petunjuk Sunnah dan Adab Sehari-hari Lengkap” karangan H.A. Abdurrahman Ahmad.

Hak Bersama Suami Istri

  • Suami istri, hendaknya saling menumbuhkan suasana mawaddah dan rahmah. (Ar-Rum: 21)
  • Hendaknya saling mempercayai dan memahami sifat masing-masing pasangannya. (An-Nisa’: 19 – Al-Hujuraat: 10)
  • Hendaknya menghiasi dengan pergaulan yang harmonis. (An-Nisa’: 19)
  • Hendaknya saling menasehati dalam kebaikan. (Muttafaqun Alaih)

Adab Suami Kepada Istri .

  • Suami hendaknya menyadari bahwa istri adalah suatu ujian dalam menjalankan agama. (At-aubah: 24)
  • Seorang istri bisa menjadi musuh bagi suami dalam mentaati Allah clan Rasul-Nya. (At-Taghabun: 14)
  • Hendaknya senantiasa berdo’a kepada Allah meminta istri yang sholehah. (AI-Furqan: 74)
  • Diantara kewajiban suami terhadap istri, ialah: Membayar mahar, Memberi nafkah (makan, pakaian, tempat tinggal), Menggaulinya dengan baik, Berlaku adil jika beristri lebih dari satu. (AI-Ghazali)
  • Jika istri berbuat ‘Nusyuz’, maka dianjurkan melakukan tindakan berikut ini secara berurutan: (a) Memberi nasehat, (b) Pisah kamar, (c) Memukul dengan pukulan yang tidak menyakitkan. (An-Nisa’: 34) … ‘Nusyuz’ adalah: Kedurhakaan istri kepada suami dalam hal ketaatan kepada Allah.
  • Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah, yang paling baik akhlaknya dan paling ramah terhadap istrinya/keluarganya. (Tirmudzi)
  • Suami tidak boleh kikir dalam menafkahkan hartanya untuk istri dan anaknya.(Ath-Thalaq: 7)
  • Suami dilarang berlaku kasar terhadap istrinya. (Tirmidzi)
  • Hendaklah jangan selalu mentaati istri dalam kehidupan rumah tangga. Sebaiknya terkadang menyelisihi mereka. Dalam menyelisihi mereka, ada keberkahan. (Baihaqi, Umar bin Khattab ra., Hasan Bashri)
  • Suami hendaknya bersabar dalam menghadapi sikap buruk istrinya. (Abu Ya’la)
  • Suami wajib menggauli istrinya dengan cara yang baik. Dengan penuh kasih sayang, tanpa kasar dan zhalim. (An-Nisa’: 19)
  • Suami wajib memberi makan istrinya apa yang ia makan, memberinya pakaian, tidak memukul wajahnya, tidak menghinanya, dan tidak berpisah ranjang kecuali dalam rumah sendiri. (Abu Dawud).
  • Suami wajib selalu memberikan pengertian, bimbingan agama kepada istrinya, dan menyuruhnya untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. (AI-Ahzab: 34, At-Tahrim : 6, Muttafaqun Alaih)
  • Suami wajib mengajarkan istrinya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan wanita (hukum-hukum haidh, istihadhah, dll.). (AI-Ghazali)
  • Suami wajib berlaku adil dan bijaksana terhadap istri. (An-Nisa’: 3)
  • Suami tidak boleh membuka aib istri kepada siapapun. (Nasa’i)
  • Apabila istri tidak mentaati suami (durhaka kepada suami), maka suami wajib mendidiknya dan membawanya kepada ketaatan, walaupun secara paksa. (AIGhazali)
  • Jika suami hendak meninggal dunia, maka dianjurkan berwasiat terlebih dahulu kepada istrinya. (AI-Baqarah: ?40)

Adab Isteri Kepada Suami

  • Hendaknya istri menyadari clan menerima dengan ikhlas bahwa kaum laki-Iaki adalah pemimpin kaum wanita. (An-Nisa’: 34)
  • Hendaknya istri menyadari bahwa hak (kedudukan) suami setingkat lebih tinggi daripada istri. (Al-Baqarah: 228)
  • Istri wajib mentaati suaminya selama bukan kemaksiatan. (An-Nisa’: 39)
  • Diantara kewajiban istri terhadap suaminya, ialah:
  1. Menyerahkan dirinya,
  2. Mentaati suami,
  3. Tidak keluar rumah, kecuali dengan ijinnya,
  4. Tinggal di tempat kediaman yang disediakan suami
  5. Menggauli suami dengan baik. (Al-Ghazali)
  • Istri hendaknya selalu memenuhi hajat biologis suaminya, walaupun sedang dalam kesibukan. (Nasa’ i, Muttafaqun Alaih)
  • Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur untuk menggaulinya, lalu sang istri menolaknya, maka penduduk langit akan melaknatnya sehingga suami meridhainya. (Muslim)
  • Istri hendaknya mendahulukan hak suami atas orang tuanya. Allah swt. mengampuni dosa-dosa seorang Istri yang mendahulukan hak suaminya daripada hak orang tuanya. (Tirmidzi)
  • Yang sangat penting bagi istri adalah ridha suami. Istri yang meninggal dunia dalam keridhaan suaminya akan masuk surga. (Ibnu Majah, TIrmidzi)
  • Kepentingan istri mentaati suaminya, telah disabdakan oleh Nabi saw.: “Seandainya dibolehkan sujud sesama manusia, maka aku akan perintahkan istri bersujud kepada suaminya. .. (Timidzi)
  • Istri wajib menjaga harta suaminya dengan sebaik-baiknya. (Thabrani)
  • Istri hendaknya senantiasa membuat dirinya selalu menarik di hadapan suami(Thabrani)
  • Istri wajib menjaga kehormatan suaminya baik di hadapannya atau di belakangnya (saat suami tidak di rumah). (An-Nisa’: 34)
  • Ada empat cobaan berat dalam pernikahan, yaitu: (1) Banyak anak (2) Sedikit harta (3) Tetangga yang buruk (4) lstri yang berkhianat. (Hasan Al-Bashri)
  • Wanita Mukmin hanya dibolehkan berkabung atas kematian suaminya selama empat bulan sepuluh hari. (Muttafaqun Alaih)
  • Wanita dan laki-laki mukmin, wajib menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluannya. (An-Nur: 30-31)

Untuk seorang kawan dekat yang saya sayangi dan  yang  mengaku “apatis” dan tidak ingin menikah serta takut menghadapi kenyataan dalam berumah tangga, semoga ini bisa dijadikan bahan perenungan. Intinya adalah sebuah pernikahan itu adalah perjalanan Ibadah dan insyallah ada  jodoh yang terbaik yang telah diberikan Tuhan untuk-mu  seperti yang berkali kali saya dengungkan untuk mu..bahwa “Tidak semua laki laki……”*waduh kok jadi nyanyi…yo wis lah ilang fokus ini nulisnya…dah waktunya makan siang…

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi disekitar kita.

 

 

About mama-nya Kinan

Ghina Artya Kinanthi, Anak perempuan pertamaku. Semoga kami bisa menjadi keluarga Yang Sakinah, Mawadah dan Warohmah, bisa membimbing dan m
This entry was posted in Cerita Mama, Gado-gado and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Renungan Jum’at; Tentang Tugas dan Tanggung Jawab Suami Isteri Dalam Rumah Tangga

  1. danirachmat says:

    Maturnuwun Mbakyu sudah diingatkan lagi..

  2. nyonyasepatu says:

    Makasih yaaaaaa udah diingetkan, kayak Dani juga

  3. desweet26 says:

    turut prihatin dengan si mba itu…miris banget yaa mbaa😦
    smoga kita selalu dijaga rumah tangganya dari hal2 seperti itu, amiiiin..

  4. Lidya says:

    terima kasih sudah diingatkan bun

  5. monda says:

    aaah…, banyak kisah seperti ini ya mbak…, istri yg tak berdaya karena ditinggal pergi..
    ibu jadi kepikiran ya, mungkin hubungan dgn tetangga ini sangat dekat ya..
    semoga ibu cepat sehat lagi dan ikut prihatin dengan nasib mbak tetangga semoga aja dia bisa bangkit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s