Mudik 2014: Duka dipenghujung Nopember 2014

Mudik 2014 yang Menyisakan Banyak Cerita

Halo blog!….duh lamanya tidak menjamah blog tercintah tempat nyampah curhat sehari hari segala keluh kesah….dan rekaman kejadian sebagai dokumentasi di blog ini….hehueheueheu kemana aja mak???!!!….seperti biasa nggak kemana mana,  Setelah mudik yang menyisakan banyak suka dan duka, yang pasti mudik kemarin menyisakan kepedihan yang mendalam buat saya, kenapa??? di akhir hari menuju balik ke pulau Bintan mbah buyut kinan atau lebih tepatnya nenek saya atau ibu dari ibu saya masuk rumah sakit kemudian  kritis, dan akhirnya 2 hari pas saya sudah balik ke Bintan meninggal dunia. Sedih hati tiada terkira, takdir menentukan saya tidak bisa bersamanya di akhir hayatnya. Beruntungnya adalah saya memutuskan saat si mbah masuk rumah sakit dan melihat keadaannya yang membuat hati saya miris sedih, saya dan ibuk berpandangan sambil menangis berpelukan berdua….saya putuskan, ibu harus tinggal dulu di Jawa untuk merawat si mbah terlebih dahulu, tiket pesawat yang sudah terbeli di extend satu bulan daripada hangus, lalu kepikir siapa yang jaga kinan pas saya sudah kerja?? tiba tiba teringat mbak dwi yang sejak tahun lalu resign dari tempatnya bekerja di pulau Bintan,dan merawat ayahnya yang sakit, saya telp mbak dwi dan sama mbak dwi tahu kegundahan saya dan tadi malam sebenarnya mau memutuskan biar dia yang ikut duluan selama barang sebulan atau dua bulan jagain si nduk. Bersyukur masyallah mbak dwi ini pengertian banget sama saya dalam kondisi susah seperti ini.  Semoga Allah membalas kebaikan mbak dwi dan memperlancar segala urusan serta mengabulkan segala doa doa-nya.

Saya tidak akan pernah menyesali segala sesuatu dan  apa yang telah terjadi, karena bagi saya itu adalah takdir yang terbaik yang diberikan Allah SWT. Keputusan untuk mudik  setelah tertunda tunda karena kerjaan  Ayah, akhirnya  memberikan hikmah, di-akhir hayat si mbah  saya bisa melihatnya, saya bisa bercengkerama dan ngobrol serta bercanda beberapa hari setelah saya sampai di Jawa. Memang tidak bisa terlalu lama dan sering saya singgah karena banyak sodara lain yang juga harus dikunjungi, setidaknya ada kenangan terindah saat itu, menangis terharu melihat keadaannya saat itu yang nampak sehat tapi terlihat kurus dan tua, usianya mungkin sudah sekitaran 85 an tahun. Masih dengan semangat menyambut dan memeluk saya Ya Allah, begitu indah…..saya menyayanginya…beribu kenangan tercipta bersamanya, Masa masa kecil saya bahkan sampai SMA banyak diasuh dan dekat dengan si mbah. Si mbah ini yang saya tahu tidak terlalu banyak bicara tapi begitu penyayang hampir tidak pernah saya menjumpainya marah, orangnya yang kuat, “struggle” untuk kehidupan dan keluarganya, berjuang membantu perekonomian keluarga dan sampai usia senjanya ketika masih sehat masih saja ingin selalu bekerja. Begitu gigih, dan hampir tidak pernah saya lihat mengeluh. Rasanya saya belom banyak membahagiakan dan membuatnya bangga, tapi insyallah janji janji yang telah saya buat insyallah banyak telah saya penuhi untuknya. Jika ada janji yang belum tertunaikan untuk si mbah, saya mohon maaf  yang sebesar besarnya dan semoga si mbah memaafkan saya, dan mohon ampun kepada Allah SWT jikalau saya belum menjadi cucu yang seperti diharapkannya dan belum bisa membahagiakannya.

Kinan dan uyut saat berkunjung kerumah uyut beberapa minggu setelah kelahirannya

Kinan dan uyut saat berkunjung kerumah uyut beberapa minggu setelah kelahirannya

Kenangan bersama  uyut Jatim park 2 (Tuesday, ‎September ‎06, ‎2011)

Kenangan bersama uyut Jatim park 2 (Tuesday, ‎September ‎06, ‎2011)

Ketika dirumah sakit hari jum’at tanggal 21-nop-2014 beliau masih sadar namun sudah cedal dan bicaranya sudah tidak saya mengerti, saya sempat membisikkan kepadanya bahwa “Saya sangat sayang kepadanya”. Si mbah tersenyum, lalu saya pamit dan minta maaf  bahwa hari minggu saya balek ke Bintan, mohon doanya. Masih mengangguk dan tersenyum bilang “ho oh” ….Ya Allah, tak tega rasanya melihatnya….ingin selalu ada disampingnya mendampingi dan berdoa tapi apa daya, saya titipkan kepada-MU Ya Allah…demikian do’a saya saat itu. Sampai akhirnya hari sabtunya saya putuskan bahwa biarkan ibu saya tinggal untuk merawatnya.

Saat  kami berkunjung saat baru datang di Jawa, saking haru dan sedihnya melihat keadaannya saya tidak sempat seperti biasa mengajaknya berphoto bersama untuk dokumentasi, kamera yang telah saya siapkan tidak pernah keluar dari tas saya, yang ada saat itu mbak dwi yang memang rumahnya dekat dengan si mbah dan kinan sedang main main dan mbak dwi bawa kamera, kinan asyik jeprat jepret saya saat bersama si mbah. Ya Allah  ini rupanya adalah photo kenangan terakhir dengan si mbah.  Dan baru ketahuan sore nya setelah  saya dapat kabar si mbah meninggal dunia, saya dirumah menangis di kamar mbak dwi, saya tanyakan semua detail ke pada mbak dwi ketika si mbah masih hidup tentang keinginannya akhir akhri ini, tentang kangennya dengan saya dan ibuk saya akhir akhir ini , dan ternyata menunggu kedatangan mudik kami. Dan saya sampaikan penyesalan saya kenapa tak sering bisa main saat mudik kemarin, karena kinan sempat sakit panas, radang tenggorokan saat mudik jadi tidak bisa banyak main main. Lalu mbak dwi bilang ada kenangan terakhir di digital kemaranya photo saya dan si mbah saat itu kinan yang memphotonya. Kesedihan dihati saya terasa dan terwujud dalam tangisan setiap mengingatnya sejak sampai di pulau Bintan waktu itu. Sampai malam hari senin sebelum paginya si mbah meninggal, Ayah kinan bilang..” Ikhlaskan, ikhlaskan…pasrahkan sama Allah biar si mbah tenang dan diberikan yang terbaik sama Allah” sambil menangis saya bilang ke ayah…” Iya Bismillah…saya berusaha untuk ikhlas”.

Hari minggu saya berangkat ke Bintan, dan si mbah hari seninnya kritis masuk ICU, hari selasa pagi sekitaran jam setengah delapan pagi tanggal 25 Nopember 2014, saya dapat kabar si mbah meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un (Arabic: إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ‎),  Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali). (Al-Baqarah 2:156) “Selamat Jalan Si mbah tersayang, beribu kenangan suka dan duka bersamamu tidak akan mudah terlupakan begitu saja, jasamu yang besar untukku akan selalu  aku ingat, terimakasih  atas semua yang telah engkau korbankan untukku, terimakasih telah menjadi yang terbaik untukku,  semoga Allah memberikan tempat yang terbaik dan terindah untukmu, menerima segala amal baikmu dan juga mengampuni dosa dosamu dalam kehidupanmu didunia, melapangkan kuburmu, menjauhkan dari siksa kubur dan juga dari siksa api neraka, memberikan surganya yang Indah untukmu. Ini  adalah takdir terbaik yang telah diberikan Allah SWT untukmu.

Selamat Jalan Mbahku tercinta, Terimakasih atas segala kasih sayang dan jasa besar serta nasehat dan do’a- mu untuk cucumu ini dan  keluarga, kami  akan selalu mengenang dan menyayangi serta mendoakanmu semoga mendapatkan tempat yang terbaik disisi Allah SWT * Aamiin.

About mama-nya Kinan

Ghina Artya Kinanthi, Anak perempuan pertamaku. Semoga kami bisa menjadi keluarga Yang Sakinah, Mawadah dan Warohmah, bisa membimbing dan m
This entry was posted in Cerita Mama and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Mudik 2014: Duka dipenghujung Nopember 2014

  1. dani says:

    Innalillaahiwainnailaihi raajiuun.. turut berduka cita ya mbakyu. Semoga almarhumah diberikan tempat terbaik di sisi Allah ya Mbakyu.

  2. MS says:

    Innalillahi wa inna ilaihi rojiun
    turut berduka cita mbak

  3. Elsa says:

    al fatihah buat uyut…

  4. Pingback: Tentang Bapak | My new world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s